MA’RIFATUD DA’WAH

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyerukan kebaikan, menyuruh yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Q.S. Ali ‘Imran :104)
“Apabila Allah memberi hidayah kepada seorang hamba melalui upayamu, maka itu lebih baik bagimu daripada yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam.” (H.R. Bukhari – Muslim)
1.A.     PENGERTIAN DAKWAH
Dakwah adalah seruan ke jalan Allah dengan tujuan memindahkan al-mad’uw pada keadaan yang lebih baik dan diridhai Allah.
Perpindahan/perubahan ini dapat berupa :
Tahwiil Al-Jahaalah Ilaa Al-Ma’rifah (Merubah Jahiliyah kepada makri-fah/pengetahuan)
Tahwiil Al-Ma’rifah Ilaa Al-Fikrah (Merubah Pengetahuan Menjadi Fikrah)
Tahwiil Al-Fikrah Ilaa Al-Harakah (Merubah Fikrah Menjadi Aktifitas)
Tahwiil Al-Harakah Ilaa An-Natiijah (Merubah Amal Menjadi Hasil)
Tahwill An-Natiijah Ilaa Al-Ghaayah Hiya Mardhaatillah (Merubah Hasil Menjadi Pencapaian Tujuan yaitu Ridha Allah)
1.B.     DAKWAH ADALAH JALAN KEHIDUPAN
Manusia adalah salah satu dari enam golongan :
    Muslim yang pejuang
    Muslim yang duduk-duduk
    Muslim pendosa
    Dzimmi [orang kafir yang terikat oleh perjanjian damai]
    Muhayid [orang kafir yang dilindungi]
    Muharib [orang kafir yang memerangi] (Hasan al-Banna)
1.C.     URGENSI DAKWAH
Dakwah bukan : pekerjaan mubah (yang dikerjakan di waktu luang), atau ibadah sunah (yang dikerjakan selagi bersemangat saja), atau fardhu kifayah. Tetapi dakwah adalah ibadah fardhu ‘ain. Berjuang untuk Islam hukumnya wajib atas individu dan jamaah.
Kedudukan tugas berjuang demi Islam sama dengan kewajiban-kewajiban syar’i lainnya, yang apabila dikerjakan berpahala dan apabila ditinggalkan berdosa.
    Al-Qur’an memerintahkan berdakwah
“Demi masa, Sesungguhnya manusia berada di dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih, saling menasehati dengan kebenaran dan saling menasehati dengan kesabaran.” (Al-‘Ashr:1-3)
“Hai rasul, sampaikanlah apa yang Diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu…” (QS. Al-Maa’idah 5:67)
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong  (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash Shaff 61:14)
Ummat yang terbaik adalah ummat yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran 3:104)
Dan kepada kaum muslim diperintahkan agar ada sekelompok muslim yang menekuni ajaran Islam secara khusus untuk disampaikan dan diajarkan kepada orang lain.
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah 9:122)
    Sunnah mendorong muslim berdakwah
“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangan (kekuasaan)-nya. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubahnya dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubahnya dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya Iman dan setelah itu tidak ada lagi iman sedikitpun.” (HR.Muslim)
“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, hendaklah kamu menyuruh kepada kemakrufan, mencegah dari kemungkaran atau Allah menyegerakan pengiriman siksa dari sisi-Nya, kemudian kamu berdoa kepada-Nya, lalu Dia tidak memperkenankan doamu.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)
    Keadaan hukum di masyarakat mewajibkan kita berdakwah
Ketidakberlakuan hakimiyyah (kedaulatan hukum) Allah dan berkuasanya undang-undang produk manusia atas masyarakat, mewajibkan umat Islam berjuang menegakkan masyarakat Islam, memperbaharui kehidupan yang Islam dan menjadikan manusia sebagai hamba Allah dalam keyakinan, akhlak dan undang-undang hidup mereka.
“Maka demi Tuhan-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam per-kara yang mereka perselisihkan., kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisaa’ 4:65)
“Sesungguhnya Kami telah Menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) Petunjuk dan Cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah, oleh orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar Ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang Diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maa’idah 5:44)
    Keadaan umat mewajibkan kita berdakwah
Pandangan seksama terhadap kondisi negara-negara Islam di seluruh dunia akan memperkuat bahwa tegaknya pertahanan Islam merupakan kebutuhan mendesak. Ada negara-negara yang menderita akibat berkuasanya orang-orang non Muslim atasnya. Ada negara-negara yang menderita akibat dominasi kelompok minoritas. Ada lagi negara-negara di belahan dunia Islam lainnya yang menderita akibat berkuasanya partai-partai kiri atau kanan.
    Dakwah juga merupakan tugas Rasul yang harus dicontoh
Tugas Rasul yang utama adalah berdakwah.
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepa-damu dari Tuhanmu: dan jika engkau tidak melakukannya (apa yang Diperintahkan itu, berarti), kamu tidak menyampai-kan Amanat-Nya. Allah Memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak Memberi Petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah 5:67)
Kita berda’wah itu karena kewajiban bukan karena pinter.
1.D.     FADHAIL DAKWAH
1.    Da’i adalah peran yang sangat dimuliakan Allah
“Adakah yang lebih baik perkataannya selain dari orang-orang yang menyeru kepada Allah swt dan mereka beramal shalih dan berkata sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushilat 41:33-34)
Jadi dakwah merupakan suatu kemuliaan yang agung bagi pengembannya. Bahkan profesi sebagai da’i adalah profesi para nabi – manusia-manusia mulia dan didekatkan kepada Allah.

2.    Dakwah sangat besar pahalanya dan sebaik-baik amal
Dakwah adalah amal terbaik karena ia memelihara nilai-nilai Islam dalam pribadi dan masyarakat. Tanpa dakwah, amal shaleh tidak akan berlangsung. Karenanya, dakwah menjanjikan balasan yang berlipat ganda kepada mereka yang beramal dengan menyampaikan ilmu dan pengetahuan kepada orang lain.
“Sungguh, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seorang lelaki lantaran (dakwah)-mu, itu lebih baik daripada seekor unta merah.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Barang siapa yang menghidupkan sunnah hasanah dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang telah mengikutinya tanpa terkurangi pahala mereka walau sedikitpun. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnah yang jelek dalam Islam, baginya adalah dosa dan dosa orang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)
3.    Pahala yang dilipat-gandakan
“Barangsiapa yang beramal shaleh baik laki-laki atau perempuan, sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami balas mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl 16:97)
4.    Memperoleh keridhaan, kecintaan dan rahmat dari Allah
Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seolah-olah mereka adalah bangunan yang kokoh. (Ash Shaff 61:4)
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga ‘And. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash Shaff 61:10 – 13)

5.    A’zham Ni’amillah (Nikmat Allah yang Terbesar)
Banyaknya nikmat Allah yang diterima seorang hamba adalah balasan atas dakwah yang dilakukannya. Di antara kenikmatan tersebut adalah nikmat Islam, iman, persaudaraan, serta nikmat dalam menjalani kehidupan berupa ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan.
6.    Al Hayaah Ar-Rabbaaniyah (Mengantarkan kedalam kehidupan yang diridhai oleh Allah)
Kehidupan rabbaniyyah akan dapat dirasakan dengan berdakwah. Muslim yang disibukkan dengan dakwah akan senantiasa tunduk kepada rabb (Allah) dalam kehidupannya, sehingga ia akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Sebelum mengajak orang kepada Islam, ia harus mencontohkan nilai-nilai Islam itu terlebih dahulu pada dirinya.
7.    Orang terdahulu yang pernah disiksa oleh Allah, antara lain karena tidak melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar
“Telah dila’nati orang-orang kafir dan Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah 5: 78-79)
1.E.     BEKAL DALAM BERDAKWAH
1.    Niat (keikhlasan niat)
Ketidak ikhlasan dapat membuat hilangnya nilai amal-amal islami, terutama amal da’wah kita di sisi Allah swt.
“Sesungguhnya orang yang pertama-tama diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah bertanya,’Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid’. Allah berfirman,’Engkau dusta. Tetapi engkau berperang supaya dikatakan,’Dia adalah orang yang gagah berani’. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al-Qur’an karena-Mu’. Allah berfirman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan, ‘Dia adalah orang yang berilmu, dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan, ‘Dia adalah qari’ (pandai membaca)’. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup hingga dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberi kelapangan oleh Allah dan juga diberi-Nya berbagai macam harta. Lalu dia didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-vnikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau suka agar dinafkahkan harta melainkan aku pun menafkahkannya karena-Mu’. Allah berfirman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau melakukan hal itu agar dikatakan, ‘Dia seorang pemurah’. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian dia diperintahkan agar diseret dengan wajah tertelungkup hingga dilemparkan ke dalam neraka (HR. Muslim)
Ada seorang A’raby yang mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki berperang untuk mendapatkan harta rampasan, seorang laki-laki berperang agar diingat, dan seorang laki-laki berperang agar kedudukannya dilihat, maka manakah yang berada di jalan Allah?” Beliau menjawab “Barangsiapa berperang agar kalimat Alllahlah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah.”
Tujuan kita adalah keridhaan Allah bukan kemenangan di dunia. Maka jangan sampai sekali-kali kegagalan mempengaruhi ghirah kita dalam beramal.
2.    Ketaqwaan
Ketaqwaan inilah sumber kekuatan kita dalam melaksanakan amal dakwah ini.
Dengan ketakwaan kata-kata akan berpengaruh. Dan dari diri Anda akan memancar nur ilahi yang akan menerangi jiwa mad’u.
Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah Memberikan Rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan Menjadikan untukmu Cahaya yang dengan Cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia Mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (Al Hadid 57:28)
Dengan ketakwaan maka Allah akan melipatgandakan pahala dakwah kita.
“… dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan Menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan Melipatgandakan Pahala baginya.” (QS ath-Thalaq 65:5)
Dengan ketakwaan Allah SWT akan memberikan hidayah kepada diri da’i untuk keluar dari segala bentuk ujian.
Tiada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan seizin Allah dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  (QS. At-Taghabun 64: 11)
Cara kita mencapai ketakwaan ini adalah dengan memelihara kesempurnaan kualitas dan kuantitas ibadah kita :
–    Shalat fardhu berjama’ah (terutama shalat Subuh)
–    Tilawah Al-Qur’an (inilah sumber cahaya. Usahakan mencapai target khatam dalam satu bulan. Minimal jangan melewatkan satu haripun tanpa Al-Qur’an)
–    Membaca minimal satu juz Tafsir Al-Qur’an
–    Memiliki waktu rutin untuk mentadaburi Al-Qur’an
–    Qiyam al-lail
–    Munajat
–    Shaum
–    Infaq
3.    Do’a
Perbanyak do’a kepada Allah karena sebenarnya kita tidak akan mampu kecuali dengan pertolongan Allah. Mintalah petunjuk-Nya karena Dia sesungguhnya yang memberikan hidayah kepada seluruh manusia yang dikehendaki-Nya. Keberhasilan da’wah semata-mata karena hidayah Allah.
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash 28:56)
4.    Keyakinan kepada Allah
(Keridhaan akan ketetapan Allah tanpa meninggalkan usaha)
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka’. Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan  mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah, menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’”  (QS. Ali Imran 3 :173)
“Jika Allah Menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah Membiarkan kamu (tidak Memberi Pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran 3:160)
5.    Kesabaran
•    Sabar terhadap gejolak nafsu
•    Sabar dalam ketaatan kepada Allah
•    Sabar dalam kesulitan berdakwah di jalan Allah
•    Sabar terhadap petaka dunia
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar 39:10)

6.    Dakwah bersumber pada Al-Qur’an
“Sesungguhnya telah datang kepadamu Cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah Menunjuki orang-orang yang mengikuti Keridaan-Nya ke Jalan Keselamatan dan (dengan Kitab itu pula) Allah Menge-luarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada Cahaya yang terang benderang dengan Seizin-Nya dan Menunjuki mereka ke Jalan yang lurus.” (QS. Al-Maa’idah 5:15)
7.    Ukhuwwah Islamiyah
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan Diberi Rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah 9:71)
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfaal 8:46)
8.    Pahala dari Allah
“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada Jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan Pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah 9:120)
9.    Ilmu
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS. Faathir 35:28)

1.F.     DAKWAH DENGAN HIKMAH
•    Da’wah dengan bijaksana, nasihat dan diskusi yang baik
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang (lebih) baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”  (QS An-Nahl 16:125)
Dakwah yang dilakukan dengan hikmah harus mampu memperki-rakan kemampuan objek dakwah, melihat situasi, serta memper-timbangkan baan penyampaian yang tepat menuju sasaran.
Nasihat yang baik adalah nasihat yang diberikan dengan cara dan pendekatan yang baik pula. Contohnya adalah nasihat yang tidak menyinggung perasaan, tidak menimbulkan kebencian, amarah serta nasihat yang melihat kondisi mad’unya.
•    Tidak berdiskusi dengan ahlul kitab kecuali dengan cara yang baik
“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan-mu adalah Satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” (QS. Al Ankabuut 29:46)
•    Tidak mencaci sembahan orang lain
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami Jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka, kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia Memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al An’aam 6:108)
•    Tabah atas perkataan-perkataan orang lain, dan hijrah (kalau diperlukan) dengan baik
Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. (QS. Al Muzzammil 73:10)
•    Berpaling dari ajaran orang yang sesat dan memberi nasihat mereka dengan kata-kata yang memberikan kesan pada mereka
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah Mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran,  dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada  jiwa mereka.” (QS. An-Nisa’ 4: 63)
•    Tidak boleh kasar, berikan maaf, mintakan ampun kepada Allah, musyawarah dengan mereka, tawakkal kepada Allah
‘Maka disebabkan Rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan-lah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran 3:159)

•    Berikan nasihat dengan al-Qur’an
“Kami lebih Mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut kepada Ancaman-Ku.” (QS. Qaaf 50:45)
•    Merendahkan diri kepada pengikut kebenaran
“Rendahkanlah hatimu terhadap orang-orang yang mengikuti-mu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara 26:215)
•    Tolak argumentasi lawan dengan cara yang baik
“Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang diantaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Fushilat 41:34-35)
•    Memudahkan bukan menyulitkan
“Ringankanlah orang-orang (dalam masalah-masalah agama), dan janganlah membuatnya menjadi sukar bagi mereka dan berilah mereka kabar gembira dan janganlah membuat mereka melarikan diri (dari Islam).” (HR. Bukhari)
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya agama ini kokoh, maka bimbinglah orang lain ke dalamnya dengan lembut. Sesungguhnya kuda yang terus menerus dicambuk, ia tak akan sampai pada tujuan dan ia sendiri akan mati.”
•    Tidak ada paksaan dalam beragama
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2:256)
Tetapi jika seseorang telah memeluk Islam, maka ia telah terikat – baik ridha atau terpaksa – untuk melaksanakan seluruh syariat Islam.
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2:208)
Beriman kepada sebagian Al-Qur’an dan ingkar kepada sebagian yang lain akan menyebabkan kenistaan di dunia dan siksa di akhirat.
“Dan (ingatlah) ketika Kami Mengambil Janji dari Bani Israil, (yaitu) janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin serta ucapkanlah kata-ata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat, Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu selalu berpaling.Kemudia kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudara sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halaman-nya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat disa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al Baqarah 2:84-85)
•    Tidak boleh berlebih-lebihan (ekstrim) dalam beragama
“Sesungguhnya orang yang memaksa diri diluar kemampuan, tak ada bumi yang dapat dilintasinya dan tak ada kendaraan yang disiakannya.” (al-Hadits)
“Celakalah orang yang berlebih-lebihan”, diucapkan beliau tiga kali.
“Hendaklah kamu menjauhi sikap ekstrim dalam agama, sesungguhnya orang yang sebelum kamu binasa karena ekstrim dalam agama.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)
“Sesungguhnya Allah menyenangi kamu bila melakukan rukhshah-Nya sebagaimana Dia menyenangi kamu bila mela-kukan kewajiban-kewajiban. (HR. Ahmad an Baihaqy)
•    Jangan fanatik karena fanatik ciri orang kafir
•    Bersikap keras kepada orang kafir yang memerangi
“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Maaidah:54)
1.G.     TUJUAN DAKWAH ILLALLAH :
1.    Membangun manusia yang shalih :
a.    Insan iman dan akidah
b.    Insan ritus dan ibadah
c.    Insan moral dan tatakrama
d.    Insan syari’at dan manhaj (konsep)
e.    Insan akal dan ilmu pengetahuan
f.    Insan pembangunan dan produksi
2.    Membangun keluarga yang shalih :
Islam menganjurkan pernikahan bukan melarangnya
3.    Membangun masyarakat yang shalih :
a.    Berkumpul atas dasar akidah
b.    Menghargai amal shalih
c.    Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar
d.    Berjihad di jalan Allah
e.    Menegakkan akhlak dalam semua aspek kehidupan
f.    Membina persaudaraan dan cinta kasih
g.    Lemah lembut dan kasih saying
h.    Saling mendukung dan menolong
i.    Saling kerjasama dan memberikan solidaritas
j.    Saling memberi nasehat dan berpetuah
k.    Bersih dan berperadaban (berdisiplin) tinggi
l.    Menegakkan keadilan
m.    Masyarakat yang maju
4.    Membangun Umat (Bangsa) yang shalih :
Karakteristik dasar umat Islam :
a)    Rabbaniyah
b)    Wasathiyyah
c)    Dakwah
d)    Kesatuan
5.    Membangun negara yang shalih
Dalil-dalil yang menyatakannya :
–    Nash-nash (4:58,59)
–    Fakta sejarah Rasul
–    Dari tabiat (watak dasar) Islam : universal
6.    Dakwah (seruan) kepada kebaikan umat manusia :
(a)    Membebaskan manusia dari penyembahan kepada manusia
(b)    Persaudaraan dan persamaan manusia
(c)    Keadilan bagi seluruh umat manusia
(d)    Perdamaian dunia
(e)    Toleransi terhadap non-Muslim dan berinteraksi dengan mereja dengan  jiwa perikemanusiaan yang universal
Kewajiban mencapai tujuan ini tidak akan gugur kecuali jika telah tegak kekuasaan yang menangani tugas ini. Selama kekuasaan ini belum terwujud, maka setiap sikap berpangku tangan kaum Muslimin adalah dosa yang tidak dapat terhapuskan kecuali dengan cara segera bangkit untuk melaksanakan segala kewajiban amal Islami itu.

1.H.     KARAKTERISTIK PRINSIPIL DAKWAH
1.    Robbaniyah (konsep, hukum, akhlak  dan  ide-idenya  bersumberkan Dien  Allah)
2.    Orisinil dan Mandiri (terlahir dari masyarakat Islam  dan  bukan    diimport dari Timur atau Barat)
3.    Progresif memanfaatkan dan mengembangkan  ilmu  pengetahuan  dan       teknologi
4.    Paripurna (meng-Islamkan seluruh aspek kehidupan)
5.    Memprioritaskan persatuan
6.    Langkah-langkah bertahap (ta’rif, takwin, tanfidz)
7.    Memprioritaskan kerja dan produksi ketimbang propaganda
8.    Politik “Nafas Panjang”  (Siap  menghadapi  berbagai  kesulitan,      rintangan dan untuk berkorban)
9.    ‘Uzlah (isolasi diri) secara ma’nawi bukan jasadi
10.    Tujuan tidak menghalalkan segala cara
1.I.     MACAM-MACAM AMAL DALAM DAKWAH
1.    Tarbiyah (Pembinaan)
Tarbiyah adalah pembinaan dengan sifat-sifat :
–    Mustamiroh (kontinu)
–    Takwiniyah (membentuk syahsiyah Islamiyah bukan sekesar transfer ilmu, menggabungkan antara at-ta’lim (ilmu) dan taujih (pengarahan))
–    Mutadarrijah (bertahap/terprogram)
–    Kaaffah (menyeluruh tidak parsial) : (gajah dan enam orang buta)
–    Adanya terapi mental
sehingga dapat membentuk kader-kader Islam.
Mengapa kita membutuhkan Tarbiyah Islamiyah ?
1)    Untuk menjadi seorang Muslim
Pembeda antara Muslim dan kafir adalah dalam hal ilmu.
2)    Islam dipelajari secara rutin dan kontinyu sesuai sunatullah
–    Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur
–    Sahabat mempelajari Al-Qur’an 10 ayat-10 ayat agar dapat melaksanakannya terlebih dahulu sebelum menerima perintah lainnya
Ketidakhadiran dalam proses pembinaan akan mengakibatkan seorang Muslim tidak mengetahui ilmu tentang Islam.
3)    Untuk menjaga iman kita
Jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat fujur. Maka thausiyah yang kontinyu akan memeliharanya dari fujur tersebut.
Iman senantiasa berfluktuasi (hadits) [lihat buku biru]. Dan salah satu cara mempertahankannya adalah dengan menerima thausiyah.

2.    Dakwah ammah / Jam’iyah / Thausiyah
Dakwah ammah ditujukan kepada muslimin umumnya.
Tujuan utamanya adalah untuk amar ma’ruf nahi mungkar.
Sifat-sifat dakwah ammah diantaranya : tidak kontinyu, terbatas pada at-ta’lim tanpa taujih, tidak adanya terapi mental dan sulit berstruktur secara rinci.
Dakwah ammah tetap dibutuhkan karena jumlah da’i yang masih terlalu sedikit dibandingkan jumlah mad’u (sehingga hanya sebagian kecil mad’u yang dapat ditarbiyah), maka usaha untuk menjaga ummat ini agar tetap melaksanakan yang ma’ruf dan tidak jatuh kepada kemungkaran dilakukan melalui dakwah ammah ini.
Cara dakwah ini antara lain :
•    Penyebaran buku-buku Islam
•    Media cetak
•    Pengajian umum / khutbah
•    Kunjungan dakwah

3.    Keteladanan
Dakwah adalah menerjemahkan teori-teori ideal dalam nash-nash kepada tataran praktis kehidupan sehari-hari sehingga teori-teori tersebut dapat diterapkan. Maka disinilah peran keteladanan.
Teladan yang konkrit akan lebih besar pengaruhnya dari sekedar nasihat dan bimbingan.
Dikisahkah beberapa budak datang kepada Hasan Al-Bashri, mengadukan praktek perbudakan yang telah membuat mereka menderita. Mereka meminta agar Hasan Al-Bashri memberi nasihat dan menghimbau orang-orang kaya supaya memerdekakan budak-budaknya. Dengan begitu mereka berharap mendapatkan kebebasan. Hasan Al-Bashri pun berjanji untuk memenuhi permintaan mereka.
Pada khotbah Jum’at pertama setelah itu, Hasan Al-Bashri tidak berkhotbah tentang perbudakan. Jum’at kedua dan ketiga pun berlalu tanpa menyinggung tema ini dalam khotbahny sebagaimana yang ia  janjikan kepada mereka. Pada Jum’at keempat, barulah Hasan Al-Bashri berbicara dalam khotbahnya tentang pahala orang yang memerdekakan budaknya. Belum sampai waktu sore datang, mayoritas budak telah dibebaskan.
Tidak berapa lama kemudian, para budak mengunjunginya untuk mengucapkan terima kasih atas khotbahnya, namun mempersoalkan keterlambatannya menyampaikan tema ini hingga sebulan penuh. Hasan Al-Bashri meminta maaf atas keterlambatan tersebut saraya mengatakan, “Yang membuat saya menunda pembicaraan ini adalah karena saya tidak memiliki budak dan tidak juga memiliki uang. Saya menunggu sampai Allah mengaruniakan harta kepadaku, sehingga saya dapat membeli budak, lalu budak itu kubebaskan. Kemudian barulah saya berbicara dalam khotbah, mengajak orang untuk membebaskan budak. Allah pun memberkati ucapanku karena perbuatanku membenarkan ucapanku itu.”
Tidak jarang da’i yang menyuruh manusia berbuat kebaikan tetapi melupakan dirinya sendiri.
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. Al-Baqarah 2:44)

4.    Infaq
Berinteraksi dengan Islam tidak cukup dengan aqidah dan ukhuw-wah. Aktifitas Islam dan kebutuhan berinteraksi memerukan dana dan fasilitas. Dana, fasilitas, kendaraan dan material lainnya berpe-ran penting dalam mendukung kelancaran dakwah. Tanpa peranan maal(harta) maka dakwah tidak akan lancar. Allah SWT menyebut-kan dalam banyak ayat yang berkaitan dengan perlunya berjihad dan berdakwah dengan mengorbankan harta dan jiwa.
Ada penyimpangan orang-orang beragama dewasa ini dalam fiqih prioritas. Terdapat orang-orang Muslim yang baik hati,  yang  mau menyumbang pembangunan sebuah masjid di kawasan yang sudah banyak masjidnya,  yang  kadang-kadang  pembangunan  masjid  itu  memakan  biaya setengah atau satu juta Junaih atau satu juta dolar. Akan tetapi  bila dia dimintai sumbangan sebesar itu, sepa-ruhnya atau seperempat daripada jumlah itu untuk mengembang-kan da’wah Islam, memberantas  kekufuran dan kemusyrikan, mendukung kegiatan Islam  untuk  menegakkan  syari’ah agama, atau kegiatan lain yang memiliki  tujuan  besar,  yang kadang-kadang ada orangnya tetapi mereka  tidak  memiliki  dana  untuk itu. Orang-orang yang memberi bantuan pembangunan masjid di atas tidak memberikan tanggapan sama sekali karena mereka  lebih  percaya  kepada membangun batu daripada membangun manusia.
“Barang siapa memberikan nafkah di jalan Allah, maka ditetapkan untuknya balasan tujuh ratus kali lipat.” (HR. Tirmidzi)
1.J.     SIFAT-SIFAT ORANG YANG HIDUP UNTUK ISLAM
1.    Komitmen kerja dengan Islam
2.    Menaruh perhatian besar terhadap kepentingan Islam
3.    Berbangga hati dengan kebenaran dan yakin kepada Allah
4.    Mengadakan komitmen dengan orang lain untuk  bekerja  sama  demi       Islam
Agar hidup terarah dijalan Islam dan demi Islam, saya harus memahami beberapa hal diantaranya :
1.    Memahami tujuan hidup
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat 51:56)
‘agar Dia Menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya,” (Hud 11:7)
2.    Mengetahui nilai dunia dibandingkan dengan akhirat
“Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan di akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At Taubah 9:38)
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di Sisi Allah-lah Tempat Kembali yang baik (Surga)”. (QS. Ali Imran 3:14)
3.    Memahami bahwa kematian  itu  pasti  dan  menjadikannya  sebagai       peringatan
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap Kekal Dzat Tuhan-mu yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman 55:26-27)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran 3:185)
4.    Memahami hakikat Islam
Hal ini tercapai dengan memperdalam pemahaman, belajar  dan  me-      ngetahui pokok-pokok Islam,hukum-hukumnya dan yang halal & haram
1.K.     AMAL JAMA’I
Perjuangan Islam terlalu berat untuk dipikul secara individual karena perjuangan Islam bertujuan mengikis habis jahiliyah sampai ke akar-akarnya dan menegakkan Islam sebagai penggantinya.
Tanpa adanya struktur (tandzim) haraki yang setarap dengan struktur yang dihadapi (jahiliyah) dalam segi kesadaran, penataan dan kekuatan, tugas perjuangan Islam tak mungkin dapat dihasung meskipun dengan berpayah-payah dan pengorbanan seluruh kemampuan.
Da’wah secara jama’ah adalah da’wah yang paling efektif dan sangat bermanfaat bagi Gerakan Islam. Sebaliknya da’wah secara sendirian akan kurang pengaruhnya dalam usaha menanamkan ajaran Islam pada umat manusia.

Maraji’
Fathi Yakan, Komitmen Muslim kepada Harakah Islamiyah
Abbas As Siisy, Dakwah dan Hati
Yusuf Qardhawi, Pengantar Kajian Islam
Miftah Faridl, Pokok-pokok Ajaran Islam
Irwan Prayitno, Fiqhud Dakwah

One Response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: