Sibuk aja kok repot?!

Dari Ayyash ke anda, dan dari anda ke teman anda yang lainnya, Ayyash berkata, Jika orang-orang malas berkata “Deuh…. Sibuk euy sekarang mah….!” maka katakanlah “Seorang muslim adalah manusia yang sibuk, detik-detiknya adalah dzikir, menit-menitnya ilmu, jam-jamnya adalah amal, siangnya adalah da’wah dan maisyah, malamnya adalah ruhiyah, hari-harinya adalah perjuangan, bulan-bulannya adalah kemenangan-kemenangan kecil, tahun-tahunnya adalah kebangkitan islam, hidupnya adalah jihad, dan matinya adalah syahid!” (HR Yahya Ayyash) (Bukhari belum pernah mendengarnya, Muslim belum pernah merawikannya, Ahmad dan Baihaqi sependapat dengan jumhur ulama, bahwa hadits ini maudhu jiddan dan direkomendasikan untuk tidak dibukukan menjadi kitab hadits, Mang Asep sepakat untuk tidak menjual buku kumpulan haditsnya, sementara mang Udin masih tetap menjual kupat tahu saat hadits ini dikeluarkan).

Tapi hikmahnya bagus. Memang benar bahwa kehidupan seorang muslim harus padat dengan aktivitas ibadah. Janganlah lupa dengan status kita sebagai hamba. Bahkan Allah sendiri yang mengatakan bahwa tugas manusia dan jin adalah beribadah. Di ayat lain Allah mekhususkan tugas menjadi khalifah di muka bumi ini kepada manusia. Jadi, beribadah dan menjadi khalifahlah tugas manusia ada di muka bumi ini. Bukan hewan, bukan malaikat, apalagi setan.

Kalau beribadah, kita memang sudah memahaminya. Tapi, kalau khalifah kenapa manusia?

Menurut Sa’id Hawa, ada beberapa alasan mengapa manusia dipilih menjadi khalifah di muka bumi ini.

1. Fisik yang sempurna.

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tiin: 4)

Allah menciptakan bentuk tubuh manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kulit yang selalu regenerasi setiap beberapa jam, mata yang dapat berkontraksi dan menyesuaikan keadaan gelap dan terang, dapat berjalan tegak dengan dua kaki, otak yang dapat berpikir cerdas, dan banyak nikmat Allah lainnya yang tidak dapat kita sebutkan satu persatu sampai kapanpun. Tidak ada makhluk Allah yang dapat menyaingi keindahan bentuk seperti yang dimiliki manusia. Tidak harimau, tidak malaikat, tidak juga iblis. Semuanya begitu sempurna dan fungsinya benar-benar nyata terasa oleh manusia.

2. Potensi Ilmu.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, (Al-Baqarah : 31)

Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq: 5)

Kita sudah pernah diajar oleh guru tersempurna yang pernah ada, yaitu Allah. Dengan begitu kita menjadi makhluk yang cerdas. Ketika Adam berhasil menyebutkan nama-nama benda barulah malaikat menyadari bahwa manusialah yang pantas untuk menjadi khalifah di muka bumi. Namun, di satu sisi malaikatpun protes, karena dengan kecerdasan yang dimiliki, manusia hanya akan menghancurkan dan memporakporandakan bumi saja.

3. Kehendak.

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Al-Insaan :3)

Manusia tidak seperti malaikat yang sudah menjadi sholeh sejak diciptakan. Tidak juga seperti setan dan iblis yang sudah membangkang sejak diciptakan dari api. Manusia memiliki kehendak, apakah akan mengabil jalan syukur atau kufur. Dalam asy-syams pilihannya adalah jalan fujur atau jalan takwa.

Karena keluasan ilmu yang dimiliki manusia maka manusia memilki banyak pilihan dalam menjalani hidup. Misalnya ketika didzolimi, maka manusia bisa memilih antara dimaafkan, dibalas, dimarahi, atau didiamkan saja. Begitu juga saat menghadapi masalah, apakah akan lari atau dihadapi. Semua bergantung pada kehendak manusia. Tidak ada makhluk yang memiliki kemampuan berkehendak seperti yang manusia miliki. Begitulah dahsyatnya pemberian Allah kepada kita.

4. Kedudukan dan kemampuan.

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (Al-Baqarah : 29)

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi (Lukman : 20)

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya,(Huud: 61)

Manusia punya kemampuan untuk mengelola alam ini. Sejak penciptaannya, manusia sudah dapat berladang, dan kini dengan teknologi yang canggih manusia dapat melipatgandakan hasil panen dan meramal cuaca. Tidak hanya itu, manusiapun sudah meneliti kehidupan luar angkasa. Perkembangan ilmu pengetahuan semakin menegaskan manusia akan tugas utamanya sebagai khalifah di muka bumi.

5. Kemampuan untuk menjelaskan.

(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur’an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara. (Ar-Rahman 1-4)

Kemampuan manusia dalam berkomunikasi memang luar biasa. Dari 27 huruf yang dikuasai, manusia dapat membuat miliran kata. Berbeda dengan hewan yang hanya dapat mengeluarkan bunyi-bunyian, bahkan manusia juga dapat memahami kata-kata yang dikeluarkan hewan seperti lumba-lumba melalui teknologi pengolahan sinyal suara. Subhanallah….

Dengan kemampuan inilah terjadi komunikasi dan transfer ilmu dari satu manusia ke manusia lainnya. Lahirlah peradaban dengan kebudayaan yang khas dan saling bertukarlah kebudayaan itu melalui komunikasi antar keduanya.

6. Potensi akal, daya tangkap, imajinasi, dan penggambaran.

Manusia dapat membayangkan hitungan matematika dalam kepalanya. Seorang pelukis dapat membayangkan objek khayalan yang akan dilukisnya. Seorang programmer komputer dapat membayangkan software yang akan dibuatnya dengen menggunakan kode-kode pemrograman. Dalam organ yang disebut otak, manusia dapat memimpikan sesuatu. Yang dari mimpi itu lahir karya-karya fenomenal atau berjalannya kegiatan da’wah melalui sebuah perencanaan yang matang. Jika manusia tidak memiliki potensi akal dan daya imajinasi, niscaya hidup di dunia akan datar-datar saja dan tidak akan maju-maju.

7. Potensi akhlak.

Manusia dapat membedaka mana akhlak yang baik, dan mana akhlak yang buruk. Melakukan akhlak baik akan berpahala, sementara melakukan akhlak buruk akan mendapat dosa. Dengan begitu manusia tahu bagaimana cara hidup yang baik di dunia dan tahu juga bagaimana cara memelihara bumi dan alam semesta.

Dari sini kita seharusnya menyadari, begitu banyak feature-feature yang Allah lekatkan pada diri seorang manusia. Dan, sudah merupakan kaidah pula bahwa sesuatu yang bernilai lebih maka penggunaannyapun dituntut lebih pula. Bayangkan sebuah mobil yang dapat melaju secepat kilat. Tidak mungkin pemiliknya hanya menggunakan mobil itu untuk dipajang atau keliling di taman lalu lintas atau taman kota. Tentu arena balaplah yang pantas untuk ditempati mobil itu. Seorang manusia secerdas Enstein tidak layak hidup hanya menjadi petani biasa dengan kemampuan akal yang di atas rata-rata. Ia memiliki tuntutan di atas pundaknya. Einstein harus menemukan karya ilmiah yang dapat bermanfaat bagi orang banyak. Jika kita sepakat dengan contoh mobil dan Einstein tadi, maka seharusnya kitapun menyadari dan dapat menerima tugas yang Allah bebankan ke atas pundak manusia yaitu untuk menjadi khalifah di muka bumi. Dan saat kita dapat menyadarinya maka kitapun memahami satu hal, bahwa hidup ini tidak bisa dilalui dengan hura-hura dan bermalas-malasan. Tetapi harus ada langkah dan amal nyata terkait kita tersebut. Dan kasadaran itu kita simpulkan dalam sebuah azzam nyata: yaitu “Kita harus sibuk”.

Jangan lupakan pesan seorang Hasa al-Banna kepada seluruh pemuda Islam di seluruh dunia. Bahwa kewajiban yang ada lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Dengan begitu kita memahami satu hal, bahwa diamnya kita adalah kemubaziran perjuangan dan waktu untuk tetap beramal demi memenuhi segala kewajiban yang Allah titahkan pada kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: