Siap-siap kalah!

Perkuat ikat pinggangmu, karena ini bukan fenomena yang manis untuk kau hadapi. Boleh jadi wajahmu tahan menghadapinya. Tapi tidak dengan hatimu. Sosok yang kau hadapi sekarang bukan lagi sosok yang dapat kau remehkan. Kekuatannya telah bertambah puluhan kali lipat. Azzamnya telah terpatri hingga jilat merah api yang membara-bara. Bukan kesombongan yang ingin kuperlihatkan kepadamu, karena itu nista dan hanya membawaku pada keburukan nilai saja. Ini sebuah keyakinan akan kemenangan yang tak kan tumbang oleh badai dan hujan. Ini proklamasi terang-terangan bahwa diriku tak boleh dan tidak akan bisa engkau kalahkan. Kekuatanku sudah berpadu pada ujung tombak keimanan, otot-otot telah diregangkan, dan kuku tajam telah menapak pada landasannya. Kaki kuda-kuda telah diposisikan sekokoh-kokohnya. Tak peduli apa rupamu, atau seringaimu, tapi siap-siap saja menelan kekalahanmu. Persiapanku seperti persiapan bumi menyongsong penciptaannya. Gas-gas dan debu-debu berkumpul jadi satu di centro posisio. Memusat pada bongkahan massa yang semakin besar dan memadat. Ia membentuk dan memancarkan kemegahannya. Banyak fenomena yang menghubungkan urat nadinya. Saraf-saraf bermunculan lalu air dan darat berkerumun membentuk singgasana bola dunia.

Ubah senyum tanggungmu itu, aku tahu bahwa kekalahan telah menyeliputi hatimu. Mengalahkan jasadmu lebih mudah setelah hatimu luluh lantak oleh kepengecutanmu. Kini hanya tinggal masalah waktu. Santorini bergema di telingaku, Gema takbir menggoncangkan bumi ini. Bahkan tanah tempat kau berpijak kini terkikis oleh gemetar lututmu. TERIAK! Teriak sekehendakmu! Tapi kemenangan tak akan sampai ketelapak tanganmu! Ia sudah melihat bulu serigalamu. Bahkan taringmu telah tanggal satu-persatu, perutmu mengurus, dan butiran keringat membasahi ari-arimu. SILAHKAN TERHENYAK! Karena telah kukatakan bahwa aku akan MENGALAHKANMU! Dan teman-temanmu telah hilang meninggalkanmu. Harta telah habis kau buang dengan desingan senjata bututmu itu. Walau tanah rata oleh derungan buldosermu, tapi itu tidak membuat kepalan tanganku melemah saat nanti aku menjambak rambutmu. Biar matamu terbelalak, tak peduli air matamu banjir lalu kau telan kembali, Tapi kini adalah waktuku untuk menghabisimu. Biar kau bersembunyi di benteng rapuhmu itu, tapi tanganku akan tetap teguh meraih onggokan daging yang melekat pada tulang-tulangmu itu. Bahasamu telalu parau untuk aku dengar. Tak peduli itu serak memohon belas kasihanku, biar yang Maha Adil yang menentukan. Bagaimana Izrail mengayunkan tarian pedangnya.

Karena tugasku hanya satu.

Yaitu mengalahkanmu!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: