Setantron (1)

Istilah itu saya dapat dari sebuah forum di salah satu alamat website yang mebicarakan betapa parahnya kehidupan pertelevisian terutama sinetron di Indonesia. Setantron, setan sinetron hehe..

Betapa tidak, sinetron yang kini diputar secara kontinu pada waktu tertentu setiap minggunya kerap membuat geram pakar pendidikan di Indonesia. Lihatlah peran yang dimainkan didalamnya. Sering kita melihat bahwa peran yang ada adalah pertarungan antara kubu “ekstrim kanan” melawan “ekstrim kiri”. Dimana orang baik digambarkan baiiiiiiiik sekali bahkan terkesan lemah tak berdaya sementara orang jahat digambarkan jahaaaaaaaaat sekali bahkan sangat sadis dan tampaknya menyamai keganasan Firaun kecuali sifatnya yang mengaku menyamai tuhan. Tak jarang kita mendengar sumpah serapah keluar dengan mudahnya dari mulut aktor dan aktrisnya. ^#!#(*!#!, (*&^@($@(! dan *@*_!*@_$!… Masya 4wl!

Seorang anak menyiksa ibunya, peran anak perempuan kecil yang setiap episodenya gak pernah absen untuk menangis, pihak good girl yang “difitnah oleh mertuanya, dicerai suami, lalu anaknya hilang, lalu diusir dari rumah, lalu ditawarkan kebaikan dari orang yang tidak dikenal, ternyata orang itu punya nafsu bejat, hampir saja kesucian diri terkotori, berhasil keluar dari ancaman sang lelaki, bisa kabur dalam hujan lebat, hampir saja tertabrak mobil, lalu datang ‘sang penyelamat’ yang ternyata sudah beristri, ketika dibawa ke rumah ‘sang penyelamat’ istrinya tak suka, lalu sang wanita itu didzolimi terus menerus oleh sang istri, tak tahan dengan ‘kejamnya dunia’ sang wanita ingin bunuh diri, pingsan, masuk rumah sakit, tak ada dokter yang mau merawat, lalu….dan…..sehingga….. BOSEN!!!!.”

Semua kejadian di atas seolah skenario yang gak pernah absen dipakai oleh para sutradara di indonesia. Seolah naskah yang ada hanya satu untuk semua sinetron yang beredar selama ini. Semisal kitab primbon lah. Bahwa kalau mau bikin sinetron, isinya harus ada sumpah serapah, gadis yang disiksa terus menerus, pernikahan lalu cerai, Battosai alias sang pembantai, orang kaya yang mobilnya mewah, rumahnya luas dan bertingkat, bapaknya orang kantor, ibunya tukang shopping, salah satu anak sombongnya minta ampun, sementara anak yang lain solehnya minta ampun juga, ampun! Di sisi lain ada tokoh yang sederhana tapi sang bapak tukang marah, ibunya tidak berdaya dengan sang bapak dan kehidupannya selalu menderita terus menerus.

Itukah gambaran kehidupan masyarakat di Indonesia? Kemana sikap ramah yang selama ini dibanggakan oleh bangsa kita? Kemana kisah – kisah yang kaya hikmah yang betebaran selama ini diantara kita? Bagaimana dengan dokter yang bertahan hidup di desa terpencil? Bagaimana dengan kisah manusia yang berjuang dari yang tidak memiliki apa-apa hingga menjadi dermawan yang hatinya lebih besar dari kepalanya? Bagaimana dengan kisah da’wah yang cobaannya bertingkat hingga Allah menurunkan pertolongannya? Bagaimana dengan kisah da’wah yang begitu mengorbankan harta, waktu, dan tenaga? Bagaimana tentang da’wah sekolah?

Penulispun geram dengan sajian yang coba diberikan oleh sinetron di Indonesia. Insya Allah, di posting mendatang penulis ingin mengupas lebih dalam betapa parahnya sajian layarkaca tanah air kita. Insya 4wl…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: