SABAR

Keharusan sabar bagi Mukmin

Karena sabar adalah ciri dari seorang Mukmin.

“Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah 2:177)

“Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kamu dan kuat-kanlah kesabaranmu.” (QS. Ali Imran 3:220)

Sabar di sini ialah ibadah dan pendekatan diri kepada Allah SWT.

“Dan untuk Robbmu hendaklah kamu bersabar.” (QS. Al-Muddatstsir:7)Cobaan bagi ahli iman adalah suatu kepastian

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan : “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rajiuun” (Al Baqarah 2:155-156)

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutuan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran 3:186)

“Dan di antara manusia ada yang mengabdi Allah pada garis batas, hingga jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akherat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al Hajj 22:11)

Keutamaan Sabar

“Tidaklah seorang muslim menderita karena kesedihan, kedudukan, kesusahan, kepayahan, penyakit dan gangguan duri yang menusuk tubuhnya kecuali dengan itu Allah mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Bukhori)

“… Siapa yang berlatih kesabaran, maka Allah akan menyabarkannya. Dan tiada orang yang mendapat karunia (pemberian) Allah yang lebih baik atau lebih dari kesabaran.” (HR. Bukhari, Muslim)

Bersabda Rasulullah saw.: Sangat mengagumkan keadaan seorang mukmin, sebab segala keadaannya untuk ia sangat baik dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi seorang mukmin: Jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukur itu lebih baik baginya dan bila menderita kesusahan; sabar, maka kesabaran itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim)

Mensyukuri suatu nikmat berarti memupuk nikmat dan menimbulkan pahala yang lebih besar dari kenikmatan dunia yang telah diterima. Demikian pula jika menderita bala’ kesusahan, lalu sabar, maka pahala kesabaran merubah suasana bala’ menjadi kenikmatan sebab pahala yang tersedia baginya, jauh lebih besar daripada penderitaan-nya.

Bersabda Rasulullah saw.: Siapa yang dikehendaki oleh Allah padanya suatu kebaikan (keuntungan), maka diberinya penderitaan. (HR. Bukhari)

Aspek-aspek Sabar dalam Al-Qur’an

· Sabar terhadap petaka dunia

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Allah dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah 2:155-157)

“Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan Allah lebih mencintai daripada mukmin yang lemah, dan dalam segala sesuatupun ada kebaikan. Jagalah barang yang berguna bagi dirimu dan mohonlah pertolongan Allah dan janganlah engkau merasa lemah. Bila ada sesuatu yang menimpamu, maka janganlah engkau mengatakan, “Jikalau sekirannya aku lakukan begini niscaya akan begini. Akan tetapi katakanlah, “Allah telah mentakdirkan, dan apapun yang Dia kehendaki Dia perbuat, karena sesungguhnya perkataan ‘kalau …’ itu membuka kesempatan bagi syaitan untuk bekerja (memperdaya).” (HR. Muslim)

Dalam Al-Qur’an dicontohkan sabar Nabi Ayyub dalam menang-gung penderitaan sakit an kehilangan anggota keluarganya. Sabar Nabi Ya’qub berpisah dengan dua orang putranya (Yusuf dan saudaranya) dan dusta serta tipu muslihat anak-anaknya kepadanya.

Sabar ditimpa musibah, ialah teguh hati ketika mendapat cobaan, baik yang berbentuk kemiskinan maupun berupa kematian, kecelakaan, nasib sial, dsb.

· Sabar terhadap gejolak nafsu

Secara lebih spesifik meliputi sabar menyangkut kesenangan hidup, sabar terhadap dorongan nafsu seksual serta sabar untuk tidak marah dan dendam.

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian.” (QS. Al Anbiyaa:35)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al Munaafiquun: 9)

Allah SWT baik dalam memberikan kesenangan ataupun pembata-san rezeki merupakan ujian dan cobaan.

“Dan jika kamu memberikan balasan , maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An Nahl: 126)

Sabar terhadap kehidupan dunia, ialah sabar terhadap tipu daya dunia; jangan sampai terikat hati kepada kenikmatan hidup duniawi. Kehidupan dunia hendaknya dipahami bukan sebagai tujuan hidup, namun hanya sebagai alat untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang abadi.

· Sabar dalam ketaatan kepada Allah

Yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT dengan melaksana-kan seluruh tugas dan kewajiban dalam beribadah kepada-Nya

“Dan perintahkanlah kepada umatmu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu (sebaliknya) Kamilah yang membe-ri rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Thaahaa:132)

Seorang yang taat dan patuh membutuhkan sabar dalam tiga hal.

Pertama, sabar sebelum ketaatan yaitu dengan ikhlasun niyyah dalam melawan bayang-bayang riya.

Kedua, sabar pada saat bekerja (operasional) agar tidak melalaikan Allah dan tidak malas untuk menepati pelaksanaan peraturan dan hukum Allah, dan memenuhi syarat-syarat peraturan hingga tuntas seluruh pekerjaannya. Selalu sabar melawan kelemahan, kekesalan dan kejenuhan.

Ketiga, setelah selesai pekerjaan dibutuhkan kesabaran dengan tidak merasa bangga dan menepuk dada karena riya dan mencari popularitas, sehingga mengakibatkan hilangnya keikhlasan.

· Sabar dalam kesulitan berdakwah di jalan Allah

Berdakwah di jalan Allah diliputi kesal, sakit hati, korban perasaan dan beban berat yang tidak dapat dipikul kecuali oleh orang-orang yang mendapat rahmat Allah SWT.

“Hai anakku dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Luqman: 17)

Kesulitan berdakwah dapat dialami dalam berbagai bentuk, misalnya berhadapan dengan telinga dan hati yang terkunci, berhadapan dengan gangguan manusia atau berhadapan dengan panjangnya jalan yang ditempuh.

Tentu saja kemenangan tercapai setelah perjuangan yang gigih dan dahsyat melalui penderitaan terus-menerus, ditimpa malapetaka, kesengsaraan dan digoncang dengan bermacam-macam cobaan, sehingga mereka berseru, “Bilakah datang kemenangan dari Allah. Dan Allah menjanjikan bahwa kemenangan sudah dekat.”

“Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaum kafir) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki dan tidak dapat ditolak siksa Kami terhadap orang-orang yang berdosa.” (QS. Yusuf:110)

Sabar dalam perjuangan, adalah sikap menyadari sepenuhnya bahwa setiap perjuangan mengalami masa naik dan masa turun, masa menang dan masa kalah, masa sukses dan masa gagal. Bila perjuangan belum berhasil, sabarlah menerima kenyataan dengan mengevaluasi dan menyusun kembali rencana selanjutnya. Sebaliknya jika perjuangan sukses, sabarlah mengendalikan emosi kejiwaan dengan tawadhu’ dan syukur kepada Allah SWT.

· Sabar di medan perang

· Sabar dalam pergaulan antar manusia

Aspek ini meliputi sopan santun pergaulan dalam masyarakat dan hubungan antar bangsa.

‘Dan bergaulah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabar-lah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisaa 4:19)

Balasan atas Kesabaran :

· Allah menyertai orang-orang sabar

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”. (QS. Al-Baqarah 2:153)

· Allah sayang kepada mereka yang sabar

“Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran 3:146)

· Orang-orang Sabar memperoleh berkah yang sempurna, rahmat dan petunjuk

“Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah 2:155)

“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Robbnya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah 2:157)

· Orang sabar memperoleh pahala lebih baik dari apa yang dikerjakan

“Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. An-Nahl 16:96)

· Orang sabar pahalanya dicukupkan tanpa batas

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar 39:10)

· Orang sabar dijanjikan pertolongan Allah

“Ya, jika kamu bersabar dan bersiap-siaga dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda”. (QS, Ali Imran 3:125)

· Orang sabar memperoleh derajat kepemimpinan dalam dien

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan selalu meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajadah 32:24)

· Orang sabar dipuji Allah sebagai manusia utama

“Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran 3:186)

· Allah melindungi orang sabar dari tipu daya musuh

“Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudhoratan kepada kamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran 3:120)

· Orang sabar layak masuk surga

“Mereka itulah orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya”. (QS. Al Furqaan 25:75)

· Orang sabar dapat mengambil pelajaran dari sejarah

‘Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang sabar lagi bersyukur.” (QS. Saba’ 34:190

“Jika Dia menghendaki akan menenangkan angin. Maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaanNya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.” (QS. Asy Syuura:33)

Pribadi-pribadi Sabar yang dikisahkan dalam Al-Qur’an

· Ayyub (ditimpa penyakit sekujur tubuhnya sehingga istrinya meninggalkannya. Lalu sedemikian sopannya Ayyub berdo’a dia tidak memohon dengan memaksa agar sembuh)

“Dan ingatlah kisah Ayyub ketika ia menyeru Robbnya: “Ya Robbku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Robb Yang Maha Penyayang diantara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya. Dan Kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi segala mereka yang menyembah Allah. Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Al Anbiya 21:83-85)

· Ya’qub (berpisah dengan anaknya tercinta Yusuf dan kemudian dengan adik Yusuf “Bunyamin”.)

Sabar bukan menerima kenyataan apa adanya, tetapi selalu mengharap dan menanti keputusan Allah, dengan penuh keyakinan bahwa sesudah kesempitan pasti datang kemudahan.

· Yusuf [Hidupnya merupakan mata rantai penderitaan. Lepas dari ujian dan tipu muslihat perbuatan kakak-kakaknya, masuk kepada cobaan, ujian dan tipu daya istri Al-Aziz. Selamat dari ujian itu lalu menghadapi ujian masuk penjara beberapa tahun lamanya tanpa suatu kesalahan yang pernah dilakukannya. Bebas dari penjara lalu memasuki ujian kesenangan dan kemewahan. Diuji dengan kedudukan sebagai menteri negara dan penanggung jawab urusan pertanian, pangan dan keuangan pada zaman krisis pangan yang melanda negeri Mesir dan negeri-negeri sekitarnya. Dia dicoba dengan menanggung rindu dan jauh dari keluarga karena terpisah dan lamanya waktu terputusnya kabar berita. Kunci dan rahasia kesuksesan Yusuf adalah taqwa dan sabar.

· Ismail

Inilah contoh kesabaran yang tinggi terhadap ketaatan atas segala perintah Allah meskipun dibalik itu menghadapi bahaya dan pengorbanan.

· Ulul ‘Azmi Minarrasul

§ Nabi Nuh a.s.

Nuh hidup ditengah-tengah kaumnya sembilan ratus lima puluh tahun lamanya. Dia menyampaikan seruannya dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, siang dan malam, memberi kabar gembira dan ancaman, tetapi kaumnya makin keras tantangannya dengan menutup mata dan telinga, mengunci hati, melontarkan ejekan, caci makian dan hinaan. Semua menolak dan menentang seruan Nabi Nuh. Tidak mengherankan jika Nuh berputus asa lalu berdo’a:

“Ya Robbku janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di muka bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS. Nuh 26-27)

§ Nabi Ibrahim a.s.

Nabi Ibrahim a.s. sabar melakukan dakwah tauhid kepada ayah dan kaumnya. Ibrahim tetap tenang dan tidak gelisah tatkala dilempat ke tengah api membara yang sedang berkobar dengan dahsyatnya. Allah SWT sendirilah yang memelihara Ibrahim dengan mencabut sifat panas dari api.

§ Nabi Musa a.s.

Musa telah bersabar dengan kesabaran yang belum pernah dialami nabi-nabi yang lain, yaitu sabar atas gangguan dan pembangkangan pengikutnya sendiri Bani Israil.

Setelah Bani Israil selamat menyeberangi laut yang telah menenggelamkan musuh, pengikut nabi Musa bertemu dengan suatu aum yang sedang khusyu’ memuja berhala-berhala mereka lalu berkata:

“Hai Musa buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala) yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”. (QS. Al-A’raaf: 138)

Ketika Musa pergi ke buhit Thur untuk bermunajat kepada llah, “Samiri” membuat sapi kecil dari emas yang dijadikan tuhan dan disembah, kaum Musa ikut melakukannya.

“Dan ingatlah ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya, lalu kamu adalah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Baqarah 2:51)

Ketika Musa berkata kepada mereka :

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. Mereka menjawab dengan kasar dan kurang ajar: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah dari pada menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”. (QS. Al-Baqarah 2:67)

Ketika Bani Israil diperintah wajib memasuki tanah suci dan diminta tidak gentar dan melarikan diri karena mereka pasti merugi, mereka menolak dengan berkata :

“Pergilah kamu bersama Robbmu dan berperanglah kamu berdua, dan kami hanya duduk dan menanti di sini saja.” (QS. Al-Maidah 5:24)

Musa hanya mampu mengeluh kepada Allah dengan nada sedih dan putus asa :

“Ya Robbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”. (QS. Al-Maidah 5:25)

Diantara kerewelan Bani Israil ialah ketika mereka dimuliakan Allah dengan dinaungi awan dalam cuaca panas terik udara sahara lalu kepada mereka diturunkan makanan manis sejenis madu dan burung sejenis puyuh, makanan yang baik dan lezat, mudah diperoleh di padang pasir yang luas, mereka bukannya bersyukur tetapi membalas dengan sikap dan ucapan yang angkuh dan tidak senonoh.

“Hai Musa kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Robbmu agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi yaitu sayur mayur, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (QS. Al-Baqarah 2:61)

§ Nabi Isa Almasih a.s.

Apa yang dialami Isa a.s. mirip dengan yang dialami Musa a.s. Rahib-rahib Yahudi menolak dan menentangnya, karena mereka hanya terpaku dalam upacara ritual dan sacral saja tanpa keinginan meningkatan mental dan moralnya. Mereka serta merta menolak dakwah Isa a.s. bahkan menuduh Isa dan ibunya dengan tuduhan keji dan palsu. Mereka tidak henti-hentinya bersekongkol, berusaha untuk mencelakakan Isa, memfitnahnya dengan mengadukannya kepada penguasa Romawi. Akibat laporan palsu dan tuduhan fitnah, maka penguasa Romawi memutuskan hukuman mati dengan eksekusi salib bagi Isa a.s. Allah SWT menggagalkan tipu daya mereka. Isa diselamatkan Allah dari pembunuhan.

§ Rasulullah saw.

Apa yang Menunjang Kesabaran menurut Al-Qur’an

· Memahami arti kehidupan dunia dengan sebenarnya

Bahwa kehidupan dunia bukanlah surga kebahagiaan atau tempat tinggal abadi, tetapi medan pelaksanaan tugas dan menempuh ujian dan cobaan. Manusia diciptakan untuk diuji agar lulus memasuki kehidupan abadi di akhirat. Apabila seseorang benar-benar menyadari akan hal tersebut dia tidak akan terkejut bila tertimpa musibah.

· Manusia menyadari akan dirinya sendiri

Hendaknya manusia menyadari bahwa dia adalah milik Allah pada permulaan dan akhirnya. Dilimpahkan baginya karunia nikmat lahir dan batin, kesehatan dan kekuatan tubuh, harta dan benda dan anak keturunan. Dan jika ditarik kembali sebagian yang dimiliki manusia maka sudah seharusnya dia tidak marah kepada pemberinya dan pemiliknya.

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl:53)

· Keyakinan pahala yang baik disisi Allah

Tidak ada dalam Al-Qur’an janji pahala dan ganjaran yang lebih besar dari sabar.

“Apa yang disisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 96)

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar:10)

· Keyakinan akan terbebas dari musibah

Keyakinan terbebas dari himpitan musibah. Keyakinan datangnya kesenangan sesudah kesusahan dan kemudahan sesudah kesulitan. Keyakinn datangnya kemenangan dari Allah bagi orang-orang beriman sebagai ganti ujian dan cobaan yang dialaminya. Keyakinan seperti itu akan menghilangkan kegelisahan batin, menghapus rasa putus asa, menerangi jiwa dengan sinar harapan kemenangan dan percaya akan hari esok yang lebih cerah.

Janji kemudahan sesudah kesulitan :

“Allah kelak akan memberi kelapangan sesudah kesempitan”. (QS. Ath Thalaaq: 7)

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah: 5-6)

Janji kesudahan yang baik bagi orang-orang yang sabar dan bertaqwa :

“Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-A’raaf: 128)

Janji Allah mengganti semua yang telah berlalu sebab Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang beramal sholeh dan berbuat ihsan :

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Allah saja mereka bertawakkal”. (QS. An-Nahl: 41-42)

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabb-mu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Al-Mu’min:55)

· Mohon pertolongan Allah

Dengan mohon pertolongan Allah SWT, berlindung kepada-Nya, berkeyakinan Allah SWT beserta dia, berkeyakinan bahwa dia dalam perlindungan, pembelaan dan pemeliharaan Allah SWT maka dia tidak akan teraniaya.

“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfaal: 46)

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabb-mu maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami” (QS. Ath-Thuur: 48)

· Meneladani orang-orang yang sabar dan memiliki kebulatan tekad

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu. (QS. Al-An’aam:34)

“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya Kamit teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud:120)

· Beriman kepada taqdir dan sunnatullah

Apa yang menimpa diri seorang bukanlah suatu kesalahan atau kekeliruan atau terjadi secara kebetulan. Dan smeua yang sudah ditentukan taqdirNya tidak mungkin salah atau meleset. Berserah dan pasrah kepada taqdir Allah dalam situasi dan kondisi seperti itu merupakan suatu hal yang disyariatkan dan terpuji.

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami Menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah Mudah bagi Allah. (Kami Jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang Diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak Menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (Al-Hadid 57:22-23)

· Berhati-hati terhadap kendala-kendala Kesabaran :

a. Tergesa-gesa

Bila seorang merasa terlalu lama untuk memperoleh apa yang diinginkannya maka hilanglah kesabaran dan terasa sempit dadanya.

b. Marah-marah

Seorang mujahi dakwah dapat saja marah bila mad’u berpaling daripadanya dan menjauhi dakwahnya. Dia kesal, berbuat yang tidak sepantasnya, putus asa kemudian menjauhi mereka. Mujahid dakwah seharusnya bersikap sabar terhadapa mad’u dan tidak bosan untuk mengulang-ulangi kembali manuver dakwahnya, dengan harapan semoga hati mereka terbuka.

“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap keteta-pan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo’a sedang ia dalam keadaan marah (terhadap kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. Al-Qalam:48-50)

Yang dimaksud dalam ayat ini ialah Nabi Yunus a.s.

Seorang datang kepada Nabi saw. dan berkata: Nasihatilah saya! Bersabda Nabi saw.: Jangan marah, kemudian orang itu mengulangi minta nasihat pula, jawab Nabi: Jangan marah. (HR. Bukhari)

c. Rasa sedih dan susah yang mendalam

“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an)” (QS. Al Kahfi:6)

“Janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Faathir:8)

d. Putus asa

Kalau hati seseorang dihinggapi keputus-asaan, maka hilanglah kesabarannya untuk melanjutkan pekerjaannya.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) menderita luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) menderita luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS. Ali Imran: 139-140)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: