Pemuda yang lahir untuk menggoncangkan dunia

Memori kita terlempar jauh pada malam itu. Sunyi di atas bukit, putra Abdullah tenang menyendiri. Rupanya sudah lama ia melakukan kebiasaan itu. Mencoba jauh dari keramaian. Membuka pikiran agar dapat jernih memikirkan kebenaran. Sampai pada akhirnya, makhluk bersayap itu menghampirinya….

“Iqra, bismirabbika khalaq!”

Sulit muhammad menangkap dan mengeja kata-kata itu. Berkali-kali jibril mengulang hingga pada hitungan tertentu, jibril melengkapkan wahyu Ilahinya….

“Iqra… bismirabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min ‘alaq. Iqra wa robbukal akrom…”

Muhammad masih memendam rasa kaget dan tertekan. Apakah gerangan makhluk yang merangkul tubuhnya dengan erat pada malam itu? Sembari mengajarkan kata-kata yang berlum pernah ia dengar sebelumnya?

“Bacalah… bacalah dengan nama Tuhanmu yang maha menciptakan. Dia yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia…”

Perkataan itu terngiang di kepala. Tiga hari berlalu, makhluk itu tidak muncul lagi. Kemana ia gerangan? Rupanya rindu sudah menyesakkkan dada. Dan turunlah risalah itu ke hadapannya, ketika Muhammad terselubung dalam hangatnya selimut…..

“Yaa Ayyuhal Mudatstsir! Qum fa andzir! Wa robbaka fakabbir! Wa tsiyaabaka fathohhir!”

Belum rupanya jelas akan apa maksud firman Tuhan ini, Sudah turun serentetan perintah untuk ia kerjakan. Bangun dari selimut, Memberi peringatan, mengagungkan Rabb, dan membersihkan pakaian.

Sebuah jabatan telah diberikan.

Tugas pertamapun diumumkan. Ada empat butir. Yang pertama adalah banguan dari kehangatan selimut. Yang kedua adalah memberi peringatan. Yang ketiga adalah mengegungkan Rabb. Yang keempat adalah membersihkan pakaian.

Kini Rasulullah tahu apa yang harus ia perbuat. Usai sudah masa pengasingan. Berlalulah masa penat dan risau. Kini kebingungan harus dibuang jauh-jauh. Karena tugas baru sudah dititahkan. Dan hari yang ada di masa yang akan datang, akan penuh dengan nafas perjuangan.

Ini tugas berat.

***

Muhammad bukan disuruh sekedar bangkit dari selimut. Tetapi bangkit dari kebiasaan yang monoton sehari-hari. Bangkit dari medan perenungan menuju medan fikrah. Bangkit dari medan penyesalan menuju medan penyusunan strategi, Bangkit dari kehidupan manusia biasa menuju pola hidup manusia luar biasa. Ini tugas maha dahsyat.

Lalu amal itu menemukan orangnya. Sang penyeru telah lahir. Lokomotif risalah ilahi akan berangkat. Kisah baru akan hadir. Dan legenda pembentukan sebuah peradaban baru dimulai detik ini. Pahlawan selalu memulai kisah kepahlawanannya dengan tanpa memiliki apa-apa. Begitu pula kisah kepahlawanan Muhammad. Modalnya hanyalah sebuah keyakinan bahwa tugas ini harus dilaksanakan. Baik ia akan mengakhiri hidupnya dengan kematian. Atau, meraih kemuliaan hakiki di kemudian hari. Ah, yang jelas pahlawan itu telah lahir. Dan ia telah siap mengukir harinya dengan darah dan pengorbanan. Jika itu memang diperlukan.

Dari mana sang arsitek akan memulai membangun peradabannya? Dari peletakan batu pertama dan batu bata selanjutnya. Akankah ia akan memulai dengan mencari orang hebat di sekitarnya? Para pemimpin kaum? Perwira – perwira militer? Preman-preman pasar? Orang-orang kaya? Bangsawan-bangsawan quraisy?

Bukan.

Ia tidak membutuhkan orang-orang yang hatinya sudah sesak dengan pangkat-pangkat dunia. Muhammad tidak mencari produk dunia yang sudah jadi. Bangunan ini akan rapuh kalau fondasinya berasal dari pabrik dunia. Ada yang kuat tetapi mudah retak. Ada yang mengkilat tetapi lembek. Ada yang padat tetapi berkarat. Selalu ada “tapi” setelah kata “ada”. Jalan satu-satunya adalah, Muhammad sendiri yang meramu dan mempersiapkan fondasi-fondasi itu. Fondasi-fondasi yang tidak akan rapuh walau menahan beban berat. Fondasi yang tidak berkarat walau badai dan hujan menerpa. Fondasi yang senantiasa teguh menopang dan tidak memohon pamrih. Fondasi ini yang ia butuhkan untuk sebuah bangunan yang bernama “peradaban”. Dan ini yang kita namakan dengan tarbiyah. Dan pabrik itu bernama: “tarbiyah rabbaniyah”.

Berkumpullah orang-orang yang dicari Muhammad. Mereka adalah:

þ Ali bin Abi Thalib 8 tahun.

þ Zubair bin Awwam 8 tahun.

þ Arqam bin Abi Arqam 16 tahun

þ Ja’far bin Abi Thalib 8 tahun

þ Shahih Ar Rumy 19 tahun

þ Zaid bin Haritsah 20 tahun

þ Saad bin Abi Waqqash 17 tahun

þ Utsman bin Affan 17 tahun

þ Usamah bin Zaid 18

Dari sini perjuangan itu membuka lembaran barunya. Pemuda – pemuda ini memang tak tahu akan apa yang terjadi di masa yang akan datang. Tetapi, mereka sudah faham kata-kata apa yang akan mereka torehkan di lembaran – lembaran kehidupan selanjutnya.

Dan jihad itupun bermula……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: