Pemimpin adalah sebuah mental! (bukan jabatan)

Banyak di antara kita yang enggan untuk menjadi pemimpin. Entah apa alasan yang melatarbelakanginya, tetapi, sampai-sampai dalam sebuah shalat berjamaah pun kita kadang membuang waktu sangat banyak untuk memilih seorang imam. Memang pada suatu keadaan tertentu ada kaidah yang me-lebih baik-an agar orang tertentu yang memimpin shalat berjamaah. Misalnya sultan (ahli rumah) lebih baik memimpin shalat daripada orang yang bertamu. Walaupun dari segi keshalehan dan kefasihan Al-Quran sang tamu lebih baik dari sang tuan rumah. Tetapi, pada dasarnya, masih saja ada mental dalam diri kita untuk enggan menjadi seorang pemimpin dan sulit memandang pemimpin sebagai salah satu ibadah yang diuatamakan.

Tidakkah kita ketahui bahwa pemimpin yang adil akan memasuki surga tanpa hisab? Tidakkah kita ketahui bahwa tugas seorang manusia adalah menjadi seorang pemimpin? Tidakkah kita ketahui bahwa tiap-tiap kita adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawabkan atas apa yang ia pimpin? Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi diri dan keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin bagi rumah tangganya. Dan seorang manusia adalah pemimpin atas lidah dan seluruh anggota tubuhnya. Dan, tidakkah kita ketahui bahwa nanti pada hari akhirat istri dan anak kita –bisa jadi— akan jadi musuh bagi kita karena buruknya kualitas kepemimpinan kita? Tidak tahukah kita semua?

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)…” (Annisaa’ 34)

“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi….” (Faathir 39)

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,” (Al-Muddatsir 38)

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At- Taghabun 14)

Karena itu akhi, mau tidak mau kita akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita pimpin selama ini. Seluruh anggota tubuh akan dimintai pertanggung jawabannya, istri dan anak akan dimintai pertanggung jawabannya, harta kita, waktu kita ibadah kita, segala-galanya. Pada kondisi itu tiada yang bisa menyelamatkan kita selain kualitas memimpin yang kita miliki ketika di dunia. Bagaimana track record kepemimpinan kita di dunia. Sudahkah kita mampu membagi waktu dalam hidup ini dan berusaha berbuat adil?

Dengan demikian, dapat kita ketahui, bahwa memimpin bukanlah sebuah jabatan layaknya sekretaris dan bendahara. Tetapi, memimpin adalah mental yang harus dimiliki semua muslim. Kalau kita tidak memiliki kualitas itu, maka wajib bagi kita untuk melatihnya dan mengasahnya terus menerus. Dengan semakin sering skill kepemimpinan kita latih, maka semakin mudah kita memadukan segala amanah yang kita emban dengan adil dan proporsional.

Sangat disayangkan, banyak dari kita yang ternyata pada saat ini, sangat melupakan dan cuek dalam mengasah skill kepemimpinannya. Lihatlah teman-teman kita, ternyata dari mereka ada yang lebih memilih untuk menjadi PSH, alias Pengikut Sepanjang Hidup. Jika tidak ada mental memimpin dalam diri maka konsekuensi yang diterima oleh menusia adalah mudah terpengaruh dan mengikuti mode dan trendsetter yang berlaku sekarang.

Salah satu sebab mengapa kita selalu mundur, ialah, karena banyak dari manusianya yang memiliki mental pengikut tetapi tidak memiliki mental pemimpin. Pada suatu ketika saya pernah melihat tetangga perempuan saya tiba-tiba berubah drastis. Pada awalnya dia adalah perempuan yang santun dan baik-baik. Tetapi pada suatu ketika, tiba-tiba rambutnya seperti makhluk hutan! Berantakan sekali. Ah, sulit saya mendeskripsikannya. Tidak beraturan, poni pendek, rambut samping panjang, dan diwarna kecoklatan. Belum pernah saya melihat model rambut seperti itu. Dasar, memang saya jarang menonton televisi. Ternyata saat saya melihat sebuah konser musik yang diputar di SCTV, saya baru tahu kalau itu model rambut Agnes Monica. Lalu, ketika saya melewati salon kecantikan baru saya ngeh. Di salah satu menu tatanan rambut tertulis “Model potongan Agnes Monica”. Oh…..

Hampir saja saya mengecap tetangga saya sebagai orang kurang waras. Na’audzubillah.

Ketika tren perfilman sedang berkiblat pada film-film bertema misteri. Langsung saja, etalase-etalase bioskop penuh dengan poster film-film Hantu produksi tanah air. Lagi tren sinetron religi, tidak lama sudah muncul judul “Taubat”, “Takdir Ilahi”, “kuasa Ilahi” mejeng di layar kaca kita. Baru muncul satu merk kue brownies “Amanda” dan ternyata laku di seluruh Jawa Barat, muncul lagi merk-merk lain yang menjual kue yang sama.

Kapan kita akan maju kalau mental kita hanya mengikuti tren saja. Apa bedanya dengan kerbau yang dicocok hidungnya, lalu mengikuti apa yang tukang bajak sawah lakukan? Merasa gaul kerena gak ketinggalan jaman, tapi bisanya hanya “mengikuti”. Sudah saatnya kita menjadi trensetter dan membuat orang lain yang mengikuti kita. Buatlah karya baru yang belum pernah dilakukan orang sebelumnya. Kita yang akan menguasai perkembangan zaman. Bukan kita yang mengikuti perkembangan zaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: