Pandangan mengenai BBM

Berikut adalah daftar harga minyak di seluruh dunia. Di Venezuela
harganya hanya Rp 460/liter, di Saudi Arabia Rp 1.104/liter, di Nigeria
Rp 920/liter, di Iran Rp 828/liter, di Mesir Rp 2.300/liter, di Cina Rp
5.888, dan di Malaysia Rp 4.876/liter. Rata-rata pendapatan per kapita
di negara-negara tersebut lebih tinggi dari kita. Sebagai contoh
Malaysia sekitar 4 kali lipat dari negara kita.

Data selengkapnya bisa dilihat di: http://infoindonesi a.wordpress. com

Anehnya di negara kita premium yang saat ini harganya Rp 4.500/liter
akan dinaikkan hingga Rp 6.000/liter sementara harga Pertamax sekitar Rp
8.700/liter.

Jelas bedanya antara negara yang mementingkan kepentingan rakyat dengan
negara Neoliberalis/ Pro Spekulan Pasar yang hanya mengikuti harga
minyak Internasional.

-Nizami-

============ ========= ========= ========= ========= ========= =========
Balasan
============ ========= ========= ========= ========= ========= =========

Saat ini adalah saat yang oleh para ekonom internasional disebut sebagai
“the most exciting time to be an economist” situasinya hampir sama
seperti pada akhir 1920-an saat terjadinya “Great Depression” yang
berujung pada perubahan mendasar sistem global. Saat ini dunia dihantam
secara beruntun oleh credit crunch perumahan dan kartu kredit di AS,
serta kenaikan komoditas energi dan pangan secara bersamaan.

Walaupun Indonesia tidak terlalu terkena dampak dari krisis keuangan di
AS, tapi kita jelas terkena dampak akibat naiknya harga komoditas energi
dan pangan, karena Indonesia sayangnya termasuk sebagai negara pengimpor
BBM dan beras, dan lebih parahnya lagi, Indonesia menghabiskan sebagian
besar APBNnya untuk mensubsidi konsumsi BBM dalam negeri.

Secara rasional ekonomi, dalam kondisi seperti ini hampir tidak ada
jalan lain bagi pemerintah selain mengurangi subsidi BBM yang tidak
tepat sasaran dan mengalihkannya ke sektor yang lebih produktif dan
bermanfaat bagi masyarakat khususnya kaum miskin. Namun sayangnya
kondisi menjelang pemilu seperti saat ini menjadikan isu ini sangat
kental dipengaruhi unsur politis dan banyak parpol akan memanfaatkan
kondisi ini untuk memobilisasi suara massa walaupun kalau mereka
berkuasa mereka juga tidak punya pilihan lain selain menghapus subsidi
BBM.

Nah, sebelum ikut demo menentang ‘kenaikan harga BBM” (atau lebih
tepatnya pengurangan subsidi BBM), mari kita simak beberapa hal:

1. Negara-negara yang masih memberlakukan subsidi BBM punya beberapa
kesamaan karakteristik:
(a) net exporter minyak, sehingga mereka bisa imbangi subsidi minyak
rakyatnya dengan revenue dari ekspor minyak (walaupun tidak peduli apa
yang akan terjadi ketika cadangan minyak mereka sudah menipis).
(b) rejim otokratik (terlepas apakah mereka sosialis populis seperti
venezuela atau diktatorian seperti mesir dan arab saudi), dan subsidi
minyak adalah metoda paling efektif untuk meraih dukungan rakyat
(walaupun sebetulnya penikmat terbesar subsidi tersebut adalah middle
class & elit)
(c) sistem ekonomi tertutup (pembatasan ketat pemerintah terhadap arus
ekspor impor), sehingga mereka tidak perlu terlalu khawatir dengan
resiko penyelundupan BBM subsidi keluar negeri, walaupun kenyataannya
pasti akan terjadi juga seperti di Nigeria.

Bagaimana dengan Indonesia? Walaupun secara total kita masih net
exporter gas alam, tapi kita adalah net importer BBM (karena struktur
industri kita selama puluhan tahun adalah mayoritas oil fuel based
sebagai warisan kesalahan regim sebelumnya). Namun kita perlu bersyukur
karena punya sistem politik yang demokratis sehingga ada debat publik
yang jauh lebih transparan dan bermutu mengenai perlu tidaknya kita
mempertahankan subsidi BBM. Dan yang terakhir adalah karena kita
menganut sistem ekonomi yang terbuka dan secara riil sebagai negara
kepulauan kita tidak akan pernah bisa menjamin bahwa BBM subsidi tidak
akan diselundupkan ke singapura atau malaysia seperti yang terjadi
selama 40 tahun terakhir.

2. Sekarang kita lihat pokok permasalahannya. Dengan asumsi harga minyak
95$ per barel (padahal saat ini harganya sudah 120$ perbarel), subsidi
BBM mencapai lebih dari 130 trilyun rupiah (bandingkan dengan subsidi
pangan yang tidak sampai 9 trilyun rupiah) dan harus dibayar dari APBN
yang berasal dari pajak yang ditarik dari seluruh rakyat Indonesia. Dan
siapa yang menikmatinya? Beberapa studi independen menunjukkan bahwa 90%
subsidi BBM dinikmati oleh 10% rakyat Indonesia yang berasal dari dari
kalangan menengah-atas. Bahkan ketika subsidi BBM dikurangi di tahun
2005, kenaikan jumlah orang miskin bukan disebabkan oleh harga BBM yang
lebih mahal, tapi oleh kenaikan harga beras dan bahan pangan lainnya
(karena kenaikan harga komoditas pangan global).

Jawab secara jujur, ketika kita mengisi bensin di pom, berapa banyak
pemilik mobil pribadi yang memilih BBM non-subsidi (petramax) dan
bukannya premium yang disubsidi oleh seluruh rakyat yang sebagian besar
bahkan tidak pernah bermimpi untuk punya mobil? Para pemilik rumah mewah
dengan AC di tiap kamar dapat menikmati subsidi BBM yang jauh lebih
besar, juga para pemilik dan pengunjung mall, bioskop dan pusat2
perbelanjaan. Adilkah itu? Anehkah bahwa kuota tahunan BBM bersubsidi
terlampaui hanya pada beberapa bulan pertama dan penggunaan BBM
non-subsidi tidak meningkat signifikan? Pernahkah bertanya kenapa di
wilayah sepanjang perbatasan dengan malaysia dan singapura sering
terjadi kelangkaan BBM walaupun pertamina bersikeras bahwa jumlah yang
didrop ke daerah tersebut sudah sesuai perhitungan demand? Pernahkah
nasionalisme terusik ketika fakta menunjukkan bahwa subsidi BBM justru
dinikmati oleh pengusaha2 di Singapura & Malaysia? Memang bahwa kita
seharusnya mengawasi lebih ketat wilayah perbatasan, tapi realitanya
ongkos untuk bisa efektif mengawasi sepanjang wilayah perbatasan kita
mungkin jauh lebih mahal dari total subsidi BBM.

3. Di sisi lain sangat aneh ketika kita berteriak untuk menyelamatkan
bumi dari pemanasan global, kita justru tetap mempertahankan subsidi
BBM. Tahukah teman-teman bahwa ketika pemerintah mengurangi subsidi BBM
di tahun 2005, Indonesia dapat mengurangi 50% jumlah emisi karbon yang
dihasilkan dan hal itu merupakan rekor dunia? Dan efek positif lainnya
efisiensi pemakaian BBM per kapita dan di kalangan industri juga
meningkat. Coba lihat di Venezuela dan Nigeria, dimana rakyatnya
menghambur-hamburka n BBM dengan memilih kendaraan yang boros bahan
bakar, dan kalangan industri juga tidak berusaha meningkatkan efisensi
produksi mereka.

4. Saat pemerintah mengurangi subsidi BBM thn 2005, di tahun 2006 kita
mendapatkan “fiscal space” sebesar hampir 150 trilyun rupiah. Dana
tersebut dipakai untuk meningkatkan pengeluaran pembangunan sebesar 20%,
meningkatkan subsidi pemerintah pusat ke daerah sebesar 32%, mengurangi
secara drastis utang luar negeri kita, dan meningkatkan cadangan devisa.
Pernahkah kita bayangkan kalau subsidi BBM saat ini sebesar 130 trilyun
per tahun itu sebetulnya dapat digunakan untuk memperbaiki infrastruktur
di seluruh Indonesia, menambah investasi bagi penggunaan energi bersih
(geothermal, solar, windpower), memperbaiki pelayanan air bersih bagi
masyarakat kota, menyediakan kredit lunak bagi jutaan pengusaha mikro,
bantuan susu dan suplemen gratis buat para balita, atau memberikan
pendidikan dan kesehatan gratis bagi seluruh rakyat?

5. Jika pemerintah pada akhirnya memutuskan untuk menghapuskan subsidi
BBM, memang itulah yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah yang
bertanggungjawab dan tidak hanya mengejar popularitas. Tapi yang juga
wajib diperhatikan adalah bagaimana pemerintah mengantisipasi dampak
kenaikan harga akibat penghapusan subsidi BBM tersebut, khususnya bagi
rakyat miskin. Jadi daripada memperdebatkan perlu tidaknya menghapus
subsidi BBM kenapa kita tidak justru mendiskusikan bagaimana
meminimalisir dampak kenaikan harga terhadap rakyat, apakah melalui
subsidi tunai, cash for work, asuransi kesehatan dan pendidikan, dsb.

Nah, jadi daripada kita demo untuk “tolak kenaikan BBM!” bagaimana kalau
kita demo untuk “alihkan subsidi BBM menjadi pendidikan dan kesehatan
gratis untuk rakyat!” dan daripada memobilisasi demo ke istana bukankah
lebih baik memobilisasi mahasiswa dan elemen masyarakat untuk mengawasi
penyaluran subsidi langsung kepada rakyat miskin? Saya bermimpi suatu
saat mahasiswa Indonesia naik ke tahapan demokrasi selanjutnya yaitu
partisipasi dalam implementasi kebijakan publik dan tidak hanya terjebak
dalam “romantika demonstrasi” . Lagipula jamannya sudah beda, dulu di
jaman Orba kita berdemonstrasi karena saluran politik tersumbat sama
sekali, tapi sekarang kita sudah punya kebebasan media dan sistem
pemerintahan yang sudah sangat berbeda.

PS: Oh ya, perlu diklarifikasi email sebelumnya mengenai perbandingan
harga BBM. Sejak 2004-2006 saja malaysia telah 5 kali mengurangi subsidi
BBM. Saat ini harga petrol di Malaysia sekitar 0.7$ perliter atau
Rp6.500 (kurs 9000/$) dan pemerintahnya juga sedang mempertimbangkan
penghapusan lebih lanjut subsidi BBMnya. China juga sedang
mempertimbangkan mengurangi subsidi BBM karena menyedot ratusan trilyun
anggaran pertahunnya. Harga BBM di AS relatif masih di bawah harga
seharusnya karena lobby industrialis otomotif mereka yang akan terpukul
apabila harga BBM naik. Malaysia mungkin bagus buat perbandingan public
policy, tapi tolong jangan bandingkan Indonesia dengan Venezuela,
Nigeria atau Saudi! Tidak comparable sama sekali.

-Herfan Brilianto-

One Response

  1. setuju mas herfan,,,
    jangan asal demo treak-treak nentang kenaikan harga BBM….
    padahal ga ngerti duduk permasalahannya.
    wong judul demonya aja udah salah, yang ada juga ngurangin subsidi BBM,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: