Menej waktu!

Memang kita tak tahu kapan kita akan mati, tetapi setidaknya harus ada suatu asumsi yang menjamin pada kita bahwa apa yang kita kerjakan selama hidup ini tidak akan sia-sia karena bayang-bayang kematian. Bayangkan Allah mengumumkan bahwa kita akan hidup tepat 5 tahun 5 bulan dan 4 hari lagi. Pasti siapapun orangnya, mereka akan segera berubah menjadi seseorang yang taat beragama. Pengacara berhenti membela hak orang lain dan mulai memikirkan apakah hak tuhan sudah ia penuhi atau belum. Koruptor mulai menyadari, walaupun ia bisa mengkorupsi dan berkolusi, tetapi ia tidak dapat menyogok tuhan agar memasukkannya ke dalam surga. Guru mulai menyadari, bahwa mengajari orang itu tidak berguna sama sekali andaikata dirinya saja belum pantas untuk dicontoh dan menjadi teladan sebagai orang yang paling siap dihisab Allah dibanding murid-muridnya. Semua orang menjadi sholeh. Dan itu tidak boleh. Barangkali itu salah satu alasan mengapa kematian dan kiamat tidak Allah bocorkan tanggal kejadiannya.

Dengan tidak dibocorkan tanggal kematian dan kiamat, maka macam manusia bisa bervariasi dalam memanfaatkan waktunya. Ada yang malas-malas, ada yang ambisi dengan dunia, ada yang bermain wanita, dan ada juga yang menyiapkan diri untuk hari akhirnya. Yang terakhir ini berbeda dengan 3 yang sebelumnya. Dengan begitu Allah bisa melihat, mana hambanya yang bersyukur, dan mana yang tidak.

Begitupun halnya dengan kehidupan seorang aktivis. Dia harus benar-benar menyadari, bahwa hidup ini hanya sebentar. Umar bin Khaththab mengatakan bahwa hidup ini seperti menyinggahi sebuah pohon sejenak, lalu pergi meninggalkannya. “Sebentar” inilah yang menjadi modal hidup seorang aktivis. Kalau banyak, tidak perlu kita pusing-pusing memikirkannya. Tetapi, karena sedikit inilah yang menjadi sebab mengapa kita harus memenejnya dengan baik.

Kalau mau main hitung-hitungan, coba ambil selembar kertas. Asumsikan kita hidup selama 60 tahun (umur rata-rata hidup manusia). Kini sekarang hidup kita sudah dihabiskan seperempat atau sepertiganya. Antara kisaran 15 sampai 20 tahun. Lalu, robek kertas itu (kita asumsikan yang seperempat). Tersisa tiga perempat kertas lagi. Maka, itulah “modal” hidup kita sekarang. Selanjutnya coba listing berapa lama kita tidur selama satu hari. 5 jam? 6 jam? 7 jam? Atau 8 jam? Kita pilih yang 8 jam. Tidur jam 9, bangun jam 5 shubuh. Dengan begitu sepertiga dari hari kita terpakai untuk tidur. Atau, dengan kata lain sepertiga dari hidup yang tersisa sudah kita anggarkan untuk tidur. Selanjutnya, robek sepertiga dari tiga perempat kertas yang tersisa. Maka waktu hidup kita menjadi dua perempat lagi, yaitu setengah, atau tersisa 30 tahun lagi.

Nah, masih merasa bahwa 30 tahun itu waktu yang lama? Jangan lupakan masa tua. Ketika umur sudah menginjak kepala 5 alias 50 tahun ke atas, praktis kinerja tubuh kita sudah merosot drastis. Tulang tidak sekuat dulu, makan tidak sembarang menu bisa dilahap, bermain juga mungkin serba terbatas, kebanyakan hidup kita akan banyak di tempat tidur, sofa, dan di depan tv. Tidak ada lagi naik-naik ke puncak gunung. Tidak ada lagi berkelana ke tengah hutan. Bahkan berbelanja ke warung pun tidak boleh yang jauh-jauh. Maka praktis, dari 30 tahun yang tersisa, 10 tahunnya kita anggarkan untuk kehidupan masa tua kita yang penuh keterbatasan. Berarti, hanya 20 tahun yang menjadi umur produktif kita dalam menggapai cita-cita.

Nah, kalau mau jujur, 20 tahun inilah porsi yang Allah beri agar setiap aktivis menggapai kualitas dirinya yang cemerlang. Kalau tidak, maka akan semakin tipis kesempatan kita untuk memasuki surga firdaus-Nya kelak. Terhadap perkara 20 tahun ini, Allah hanya memberi dua pilihan, diisi dengan jalan kefujuran, atau diisi dengan jalan ketakwaan. Allah juga sudah membocorkan, akhir dari jalan kefujuran adalah kerugian dan neraka, sementara akhir dari jalan ketakwaan adalah keberuntungan dan surga.

Sudah merasa bisa memenej waku dengan baik? Tunggu dulu…. kita coba dengan sebuah tes yang sederhana. Jawab pertanyaan ini, sudahkah anda memahami bahasa Indonesia? Bahasa yang menjadi bahasa sehari-hari kita? Bahasa yang ibu dan bapak kita ajarkan sejak kecil hingga kini? Bahasa yang sudah kita pelajari selama kurang lebih 15 sampai 20 tahun? Lalu, mengapa masih banyak yang menulis kata “manage waktu”? Padahal yang benar adalah “menej waktu”!

One Response

  1. wah sangat bermanfaat dan logis…terimakasih artikelnya…terus semangat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: