Fondasi Kebangkitan

Bola perjuangan terus berputar. Tantangan demi tantangan menghadang kaki yang tengah melangkah. Semakin payah kaki itu melangkah, semakin besar tantangan yang didapat. Awalnya kau pikir tugas itu amatlah ringan dan menyenangkan. Awalnya kau pikir surga itu murah dan mudah untuk diraih. Dengan sepenuh hati  kau melangkah untuk menyentuh gerbang nirwana itu. Tetapi, semakin engkau melangkah, semakin nyata mendakinya jalan yang engkau ambil. Lalu fondasi hatimu mulai rapuh oleh keraguanmu, tak yakin, apakah engkau akan terus melangkah, atau berhenti sampai di sini. Jauh, pikirmu. Meletihkan. Tak mungkin kau dapat menjejakkan kaki di negeri impian itu. Engkau berandai-andai agar bisa seberuntung Jack dalam kisah pohon kacang ajaibnya. Engkau tanam biji pohon itu sembari berpegangan pada ujungnya, lalu pohon itu terus bertumbuh menuju puncak di langit sana.

Engkau ingin berdiam diri dan menunggu pertolongan agar ada yang membopohmu ke sana. Tapi tak ada yang mau menolongmu. Setiap orang yang melewatimu, hanya menyeka keringat dan meneruskan perjalanan. Sementara dirimu, masih susah menghancurkan borgol yang membelenggu otot dan fikiran picikmu itu.

Sampai kapanpun, tak akan ada yang dapat menolongmu selain dirimu sendiri. Hari ini, besok, atau kapanpun, hanya engkaulah yang dapat menentukan, apakah hanya menjadi orang yang berdiam diri, atau ikut dalam kafilah perjuangan ini. Da’wah ini memang payah! memang susah! Tetapi, apalah artinya manusia, kalau tidak bisa melawan dan bertahan terhadap segala situasi yang tidak memungkinkan. Apalah arti masa kecil kita jika setelah dewasa, mental kita lebih rapuh dari bayi sedang belajar merangkak. Semua butuh kerja keras dan pengorbanan. Akan banyak yang meremehkan dan menertawakan kita. Akan banyak yang mencemooh dan menyiksa kita. Akan banyak orang-orang munafik yang berkhianat di tengah-tengah kancah perjuangan. Kita memang ditakdirkan untuk melewati masa itu. Kita memang dipertemukan dengan zaman penuh kemustahilan. Hanya keimanan yang dapat menyingkap betapa besarnya pertolongan Allah diturunkan. Hanya keteguhan hati yang dapat merobohkan segala bentuk tirani dan kebodohan di sepanjang jalan yang berduri ini. Ini adalah fondasi kebangkitan. Yang ditanam dalam bumi yang terdalam, dan letaknya sangat jauh dari hingar bingar kenikmatan. Pundak kita harus cukup kuat untuk terus merasakan penderitaan di jalan perjuangan. Biar anak cucu kita yang merasakan kemenangan nyata ini. Biar nama kita hanya terkubur dalam memori pejuang di zaman kita dan terlupakan di era keemasan. Pengorbananlah yang menjadi harta kita untuk ditukarkan dengan surga. Segalanya milik Allah, dan akan kembali kepada Allah.

Saat engkau bangun dari pengorbanan yang berkesudahan, maka engkau baru menyadari, bahwa pengorbanan ini ternyata sangat sedikit dibandingkan dengan kenikmatan yang didapat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: