Arti dari sebuah dedikasi

Di bulan ini ada satu momen yang hari jadinya selalu di peringati setiap tahun. Hari itu adalah hari anak. Kemaren Yash melihat dan merasakan ternyata masih banyak anak-anak tanah air yang belum terdidik dengan baik sampai layak dikatakan sebagai putra putri ibu pertiwi. Anak-anak Indonesia banyak yang ditelantarkan. Tidak mengenyam pendidikan, bahkan tempat berteduhpun tak ada. Masih teringat UUD 45 pasal 34 yang tertulis Fakir Miskin dan Anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Tapi kok meliharanya kayak melihara hewan? Rumah di perumahan kumuh, makanannya dihinggapi laler, siang malam keluyuran, dieksploitasi pula. Diapaksa orang tuanya meminta-minta di jalanan.

Sebagai orang yang dewasa, pada umumnya, manusia memang tertarik untuk eksis di dunianya. Mencari duit, merajai bisnis, mendulang emas sebanyak-banyaknya, punya istri dan anak-anak yang lucu. Buat apa lagi ngurusin anak kecil? Itu masa lalu. Kini masanya memasarkan diri dan berkompetisi untuk menjadi yang terbaik. Orang sudah pergi ke bulan, ini masih berkutat dengan anak kecil.

Tapi, apa betul begitu?

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (An-nisaa ayat 9)

Lalu bagaimana kita menanggapi ayat Allah di atas? Apakah kita termasuk manusia yang mengakui kebenaran sebagian Ayat Al-quran dan mendustakan sebagian lainnya?

Setiap manusia musti melewati masa kecil alias masa kanak-kanak. Pakar pendidikan berkata, apa yang akan manusia alami ketika dewasa, tidak lain dan tidak bukan adalah pengaruh dari apa yang ia dapatkan dan kerjakan di masa kecilnya. Seseorang yang hobi bernyanyi ketika kecil, tak pelak akan menjadi seorang penyanyi di masa dewasanya. Minimal ia akan terbiasa bernyanyi dan susah menghilangkannya. Seseorang yang dimanja oleh ibunya ketika kecil akan menjadi manusia lemah ketika dewasanya, karena terbiasa dengan serba ada dan serba mudah ketika kecilnya. Semua adalah hasil pembiasaan yang ia dapatkan ketika kecilnya. Sebaliknya, seseorang yang terbiasa kerja keras sedari dini, sering menjadi orang hebat dan tangguh ketika dewasanya. Tangguh baik dalam usaha bisnisnya, pekerjaannya atau dalam menjalani kehidupan.

Nah, di antara slide-slide keprihatinan bangsa ini ada satu slide yang membuat kita tertegun. Ada beberapa orang yang justru mendedikasikan hidupnya untuk perkembangan anak bangsa.

Kak Seto M. dan Dik Doank adalah 2 diantara jejeran manusia-manusia langka itu. Di saat kapitalisme merajalela dan menggurita di dalam benak manusia Indonesia, masih ada orang-orang yang peduli terhadap anak anak bangsa. Bukan tidak mungkin mereka dicela oleh rekan-rekan sebayanya. “Udah gede kok masih ngurusin anak kecil?”, “Huh! Dasar MKKB! Alias Masa Kecil Kurang Bahagia. Senengnya main sama anak kecil melulu”.

Kak Seto adalah pemain lama dalam dunia pendidikan anak. Masih tergores dalam ingatan, salah satu tokoh rekaan Kak seto yaitu Si Komo mejadi idola anak kecil termasuk penulis. Pesan-pesan yang beliau sampaikan sangat mengena di hati anak kecil. Dulu juga ada Kak Ria enes dengan boneka susannya. Sekarang sudah tidak terdengar lagi di media massa. Sementara Dik Doank, akhir-akhir ini aktif membina anak kecil dalam sebuah lembaga pendidikan dan jadi duta dalam program BOS, Bantuan Ongkos Sekolah.

Pekerjaan Kak Seto, Ria Enes, dan Dik Doank memang sulit dianggap sebagai pekerjaan yang merupakan gaya hidup masa kini. Sangat sulit untuk berpikir bahwa mereka menggeluti hal itu hanya untuk tujuan profit dan komersial. Buktinya, televisi dan media massa tidak terlalu melirik mereka dalam program-program yang bertema pendidikan anak. Dalam keadaan seperti itu mereka tetap melakukan apa yang mereka anggap sebuah keharusan dan kebutuhan dalam pembangunan bangsa ini dengan menyiapkan generasi yang unggul dan terdidik sejak dini. Mereka bergerak bukan karena uang, tapi dedikasi yang besar untuk kemajuan bangsa ini. Sebagaimana nasihat para masyaikh, masa depan ada di pundak para pemuda dan generasi muda saat ini. Jika mereka baik, maka akan baik bangsa ini. Dan jika mereka buruk, maka akan buruk juga bangsa ini.

2 Responses

  1. Pemahaman yg sungguh luar biasa

  2. Silahkan download link-link yang terdapat di web kami yang kami rangkum dari beberapa blog ikhwan-ikhwan ahlussunnah. semoga bermanfaat.
    annashihahpress.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: