Anak yang professional

Da’wah adalah dunia yang sungguh menyenangkan sekaligus mangharukan. Terutama saat kita lebih dekat mengenal Allah dan keindahan surga, maka da’wah akan membuat kita ketergantungan. Ya, tak ada hari tanpa da’wah. Sungguh sebuah ketergantungan yang menguntungkan.

Tak jarang bagi kita yang sudah ketergatungan dengan da’wah menemui hambatan (qadayah) di peirizinan terhadap orang tua. Ini wajar. Bisa jadi karena memang Orang tua kita memang tidak mengenal da’wah yang kita geluti. Atau, bisa juga berupa kekhawatiran jikalau kita melupakan keluarga, akademis, atau fisik kita sendiri. Sekali lagi ini wajar. Karena kita adalah buah hati mereka. Yang telah mereka rawat sejak dari dalam kandungan belasan tahun yang lalu.

Namun, apakah dengan begitu kita tidak bisa menjalani aktivitas da’wah kita dan cenderung mengungkung idealisme kita dibalik dinding kepatuhan terhadap orang tua?

Tidak juga. Pokok permasalahan bukan pada bahwa kita harus selalu menurut pada orang tua atau ketakutan durhaka karena tidak mau menurut pada apa yang orang tua perintahkan. Tetapi, lebih kepada seberapa profesionalkah kita sebagai anak dari orang tua kita.

Wuih? Gak salah tuh? Emang ada anak yang profesional?

Ya Ada lah! Kalo gak profesional, bukan aktivis da’wah namanya!

Kunci Utama : Komunikasi.

Terkadang hal kecil ini yang jadi lembah besar antara orang tua dan da’wah. Komunikasi. Sekarang coba kita pikirkan. Tahukan orang tua kita bahwa kita menjadi seorang mentor di Da’wah sekolah? Tahukah mereka bahwa adik mentor kita menjadi baik akhlaknya setelah mengikuti mentoring kita? Tahukah mereka bahwa kita sedang dibanggakan oleh orang tua adik-adik mentor kita karena kita membawa perubahan yang baik terhadap anak-anak mereka? Tahukah orang tua kita?

Tahukah mereka bahwa pada saat tertentu kita sedang memimin rapat sebuah kegiatan? Tahukah mereka bahwa banyak potensi yang tergali setelah kita menggeluti aktivitas da’wah ini? Tahukah mereka bahwa kita bisa percaya diri berorasi dihadapan ratusan orang, dan bisa memimpin ratusan orang dalam sebuah kegiatan yang besar? Tahukah mereka bahwa kita memiliki teman di sekolah-sekolah lain di provinsi-provinsi lain? Tahukah mereka bahwa bahwa proses belajar kita menjadi terbantu karena sesama aktivis da’wah juga saling membantu dalam hal akademis? Tahukah mereka bahwa kita bisa membuat majalah atau buletin yang dibaca oleh ratusan orang? Tahukah mereka bahwa akhlak baik kita sedang diteladani oleh belasan anak orang? Tahukah mereka?

Renungi baik-baik. Seandainya saat ini mereka belum tahu hal-hal itu,lalu dengan mekanisme tertentu akhirnya mereka tahu bahwa banyak potensi dan kebaikan yang kita tebar melalui aktivitas da’wah. Apakah mereka akan tetap melarang aktivitas kita?

Bayangkan bila suatu saat ada seorang ibu atau bapak dari adik mentor kita menelepon ibu kita dan mengatakan:

“Ibu, terima kasih… karena bimbingan dari anak ibu, anak saya jadi rajin sholat…”

“Bapak, terima kasih. Kok setelah mengikuti kemping muslimnya anak bapak, anak saya jadi nurut sama orang tua…”

Apakah mereka akan tetap kita berda’wah? Insya Allah, mereka akan berpikir ulang tentang kesibukan da’wah kita. Insya Allah.

Lalu, mengapa hal kecil itu terasa sulit untuk dilaksanakan?

Jawabannya adalah karena bahasa yang dibutuhkan untuk menyampaikannya tidak cukup dengan bahasa kata-kata saja. Tidak cukup kita berceramah tentang urgensi da’wah dan alasan mengapa kita harus berda’wah. Ada bahasa lainnya. Bahasa apalagi?

a. Bahasa prestasi.

Yakinkan mereka bahwa akademis kita bisa baik walaupun kita melakukan aktivitas da’wah. Buktikan bahwa kita bisa meraih peringkat yang bagus di kelas. Orang tua memang rewel mengenai masaah akademis. Hal ini terjadi atas beberapa pertimbangan. Pertama, sekolah itu mahal, maka jangan sampai orangtua kita bermuram durja karena kita terkesan memubazirkannya dengan meraih prestasi yang tidak prima. Kedua, orang tua kita bertanggung jawab atas masa depan kita. Ingat, tidak selamanya orang tua kita akan menanggung biaya hidup kita. Dalam benak mereka, akademis yang baguslah yang menjamin kecemerlangan masa depan kita. Jadi, jawab kegusaran mereka dengan prestasi yang bagus.

b. Bahasa akhlak

Beri pemandangan yang indah di rumah dengan akhlak kita yang selalu membaik dari hari ke hari setelah kita menggeluti aktivitas da’wah. Ketiba-tibaan kita yang jadi mencintai Qiyamullail, Tergila-gila dengan Al-Quran, mabuk dengan membaca buku-buku islam, Doyan sapu-sapu rumah, ketagihan nyuci piring, maniak mijitin orang tua, romantis dengan membeli bunga untuk papa mama di hari ulang tahun mereka dan ulang tahun pernikahan mereka, plus di hari ibu. Senyum selalu kepada mama dan papa. Senantiasa salam, Memuji kecantikan mama, dan ketegasan papa. Sabar dengan emosi papa mama, nyetrikain pakaian, nyuci baju, nemenin mama belanja ke pasar. Pulang dari sekolah beliin pizza, jujur dengan uang belanjaan. Kalo ada kembalian abis beli minyak goreng mbok ya kembaliin, jangan diembat walau seratus rupiah..

Buat bulu kuduk mereka berdiri.

Ini anak saya atau anak malaikat? Gak mungkin anak iblis!

Tentu di tengah kebingungan itu mereka akan teringat dengan aktivitas da’wah yang kita geluti.

O.. iya ya… khan anak saya ikutan aktivitas mesjid di sekolahnya.. pantesan…..

c. Bahasa efek samping

Selain akhlak, ada sesuatu lagi yang berubah dalam diri dan hidup kita, setelah berprofesi menjadi seorang da’i. Yaitu efek samping. Tiba-tiba saja banyak telepon bekring-kring di rumah mencari kita. Lalu tanpa sengaja orang tua kitalah yang mengangkatnya…

“Halo.. Assalaamalaikum.. Kang Zidanenya ada?”

Ih… tumben-tumbenan si zidane dicariin ama anak kecil? Ada apaan ya?

Lalu orang tuapun mulai penasaran. Apalagi kalau anak itu sering menelepon kita. Maka, sudah saatnya kita ceritakan pada mama papa bahwa mereka menelepon kita karena ingin curhat tentang masalah mereka. Tuh kan! Mama mana yang gak bangga kalo anaknya jadi tempat curhat? Papa mana yang gak ngiri kalo anaknya udah jadi tempat bersandar orang lain? Lalu bunga sakurapun bersemi di hati mereka..

Ceritakanlah bagaimana kisahnya sehingga banyak adik-adik kecil yang menelepon kita sampai 15 menit hanya karena ingin menceritakan masalah mereka. Subhanallah kalau semakin banyak adik mentor kita yang curhat pada kita.

Lalu, bahasa efek samping lainnya adalah jika tiba-tiba kita membawa jagung bakar ke rumah. Lalu mama papa pun nanya

“De, nyolong jagung bakar dimana?” (Pertanyaan versi orang tua sadis…)

Terangkan pada mereka bahwa ini bukan hasil nyolong, tapi sisa dari halal bi halal di SMP. Semoga hati mereka lunak dan menerima aktivitas kita setelah memakan jagung itu…. Amin!

Bisa juga dengan membawa mereka langsung ke SMP tempat kita mementor. Bayangkan betapa sumringahnya mereka, saat mereka melihat kita tiba-tiba banyak disalami oleh adik-adik mentor kita.

“Wah.. anak kita terkenal juga ya?”

“Iya ya ma.. Papa juga kaget… perasaan di rumah pendiem lho!”

Tuh kan!!

Atau, bisa juga dengan membawa intel ke tempat kita mementor. Carilah kaki tangan mama papa yang kata-katanya bisa langsung mereka percaya. Misalnya… adik kita! Ya adik kita! Ajak ia ikut mentoring dan aktivitas da’wah kita dan biarkan ia melapor ke mama papa keadaan langsung di lapangan seperti apa.

d. Bahasa Ukhuwah

Itsar selalu memberikan pemandangan yang indah bagi siapapun yang merasakannya ataupun yang melihatnya. Saat-saat dimana orangtua kita melihat pengorbanan yang besar dari teman-teman kita terhadap diri kita. Saat kita sakit, maka secara berbondong-bondong mereka menjenguk kita sesegera mungkin. Saat kita milad maka mereka memberi hadiah yang berkesan. Saat kita menikah, maka mereka paling dahulu menawarkan bantuan kepanitiaan dan meramaikan walimahan sekaligus mempercepat masakan habis. Saat ada bencana yang tiba-tiba maka mereka yang menolong kita terlebih dahulu. Pada saat itu, orang tua kita akan melihat bahwa rekan-rekan seperjuangan kitalah sebaik-sebaik kawan dalam menjalani hidup ini. Dan itu kita harap akan merubah paradigma mereka tentang aktivitas da’wah kita.

e. Bahasa Negosiasi

Terkadang ada kebentrokan antara keinginan orang tua dan tuntutan da’wah. Misalnya orangtua minta agar kita membeli sayur ke pasar sementara kita harus memimpin rapat pada jam 7 pagi. Pada saat itu kita harus bernegosiasi pada diri kita sendiri. Bisakah menjadi in-win solution? Misalnya dengan membeli sayur sebelum adzan subuh berkumandang. Atau setelah kita rapat. Lain waktu Papa minta kita menyikat dinding kamar mandi esok hari. Padahal kita harus menyertai adik-adik di kegiatan tafakur alam. Maka bernegosiasilah pada ayah. Bisakah diganti pada keesokan harinya? Atau bisakah dilakukan hari ini, lalu dilanjutkan setelah kita pulang tafakur alam? Atau buat janji pada waktu kita tidak melakukan aktivitas da’wah. Malam atau shubuh kalau perlu. Ingatlah kisah Bilal bin Rabah yang harus ngaji ke rumah Arqam bin Ab Arqam setelah majikannya tidur, dan sampai ke rumah kembali sebelum majikannya bangun, Subhanallah…!

Selalu ada win-win solution.

Namun, pada waktu yang lain terkadang orang tua menuntut kita lebih memprioritaskan keinginan orang tua daripada kegiatan da’wah kita. Pada saat ini mungkin kegiatan da’wah kita yang berkompromi dengan keinginan mama papa. Misalnya mencari pengganti untuk memimpin rapat, atau konfirmasi jauh-jauh hari bahwa kagiatan kita dibatalkan atau dialihkan ke hari yang lain. Semoga Allah, sang sutradara dari hidup kita menyusun sebuah kisah yang terbaik terhadap segala usaha ikhtiar kita.

Nah, semoga dengan keempat bahasa itu, kita dapat lebih memahamkan orang tua mengenai aktivitas da’wah kita di sekolah. Kita berbirrul walidain sambil berda’wah insya Allah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: