Allah Maha Adil

Sebut dia Ahmad. Ahmad Khoirunnas bin Umar. Pria jawa yang bernama gaya Arab ini memang tinggi, gagah dan ganteng. Namun walaupun namanya ke-Arab-Arab-an, wajahnya cenderung mirip kepala suku Aborigin di Australia : Hitam manis, dengan mata mbulat. Lucu juga, Arab, Jawa, dan Aborigin.

Kehidupan sehari-harinya dapat dibilang merupakan kehidupan yang patut diacungi jempol. Bahkan tak cukup hanya dengan 2 jempol tangan saja tetapi dengan 2 jempol kaki kalau perlu. He..he..he… Pol!

Banyak akhwat-akhwat yang tergila-gila padanya. Saking gilanya tak kurang dari 5 telepon setiap harinya menggaduhkan gendang telinganya(wah !! setahun ada berapa ya??) dari akhwat-akhwat yang ingin berkenalan dengannya (emangnya kaga bisa di sekolah apa?). Maklum ikhwan yang dapat dibilang taat pada Tuhannya, ramah pada sekelilingnya, dan cerdas untuk ukuran pemuda seukurannya ini juga bergaul dan dikenal di sekolah-sekolah serta madrasah dan pesantren lainnya di kotanya.( Masya Allah! Terkenal bwuangeeeeeettttt!!!). Tetapi, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan kepeleset juga ( eh pak guru BI maaf ya !). yap! Walaupun begitu, tidak sedikit yang kesal terhadap ulahnya yang selalu ngejailin teman-temannya. Prestasi monumental terakhir yang ia lakukan minggu ini adalah menyembunyikan handphone milik temannya di dalam kuburan manusia yang dikuburkan saat itu juga. Spontan saat terdengar suara handphone dari dalam kubur seluruh penggali kuburan menggali kembali kuburan tersebut hingga handphone diketemukan. Dan keduanya diceramahi abizzzz-abizzzzzzan ( Sampe muncrat euy!) oleh ( tak hanya pak Ustadz) seluruh orang yang hadir di sana. Beruntung mereka tak sampai dibakar massa atau dihukum di pengadilan agama. Dan yang paling beruntung lagi ialah alhamdulillah sang mayit tidak menjawab dering handphone tersebut.

ÞÞÞ

Hari ini seorang akhwat meneleponnya. Tepatnya pukul 5 ba’da subuh. Nisa nama yang akhwat tersebut katakan saat ia memperkenalkan diri kepada Ahmad. Annisa Panggabean Binti Chiang Kai Sek. Seorang akhwat yang lahir di Mekah, berbapak Cina dan beribu Batak zèratuz pèrzèn. Ia berusaha untuk berekenalan dengan Ahmad. Segala hal ia tanyakan kepada Ahmad. Dari mulai nama, kelas, No. absen hingga No. kartu kredit ia tanyakan pula (masyaallah…). Eit ! mungkin saja nomor kartu kreditnya itu yang dapat memenangkan Tina dalam kuis Hari Anda yang dipandu Oeh Harry de fretes dan Denada di salah satu stasiun Televisi Swasta kita.

Setelah 30 menit lamanya Ahmad melayani percakapan dengan Nisa, 30 menit ke depan ia gunakan untuk mandi, makan, berpakaian, dan siap berangkat ke sekolah.

“Umi! Mamad pergi dulu ya!” seru Ahmad seraya mendekati ibunya yang tengah memasak gudeg kesukaan abinya. Mamad – begitu panggilan mesra umi kepada Ahmad- mengecup tangan umi, meminta izin dan do’a restu pada ibunda tercinta.

“Udah mau pergi, Mad?” sapa umi dengan wajah ceria.

“Ia, Mi, Mamad harus piket kelas dulu pagi ini. takut Bu guru Matematika ngajarin PPKn lagi nanti siang.”. jawab Mamad terkenang guru matematikanya yang selalu ceramah tentang kebersihan jika kelas kotor.

“Lho…. Angkot khan mogok, Mad.”

“Masyaallah! Ia mak?!” Mata Ahmad yang sudah mbulet semakin mbulet karena terbelalak.

Ahmad mulai memutar otak. Mencoba mencari jalan keluar. Dengan gaya berpikir Shinichi Kudo ia menempelkan jari jempol dan telunjuk yang dibentuk seperti pistol ke permukaan dagunya. Ahmad ngeloading jawaban pemecahan masalah ini……

“Ah Ahmad mikirnya pas jalan aja deh Mi! Lagi butek nih! Insya Allah ada jalan keluar. Allah maha Adil kan Mi.., lagipula udah telat nih!”

“Bener lo ya! Jangan nyalahin Umi kalau kamu nanti disuruh ngebersihin kotoran sapi dan kambing bekas Idul kurban kemarin gara-gara kamu udah telat yang ke-15 kalinya.”

“Ia! Siap bu komandan! Saya siap untuk pergi berjuang!” tegas Ahmad yang merubah aksinya menjadi seolah-olah seorang tentara perang jihad.

“Roger, Bu komandan! Saya pergi dulu Assalaamu’alaikum!”

“ Wa’alaikumsalaam warahmatullahi wabarakatuh”

Saya bertekad bahwa pagi ini tidak akan telat, Insya Allah !! batin Ahmad sangat kuat.

Akhirnya sang burung mulai beranjak dari sarangnya. Menjawab sapaan matahari dan lambaian dedaunan rindang di pinggir jalan, menjelang jalan ramai tempat ia akan berlabuh ke persinggahan selanjutnya. Selamat jalan burungku……………………

Jangan biarkan bulu indahmu itu terkotori oleh kotoran sapi bekas idul kurban kemarin yang belum dibersihkan sama sekali.

ÞÞÞ

“Tiiiiiiiiiiiiinnn..!!”

“Woi! De ! kalau jalan liat-liat dong ke depan!!!” geram seorang supir sedan putih yang terpaksa mengerem mendadak karena ada seorang bocah yang tiba-tiba menyebrang tanpa celingak-celinguk terlebih dahulu.

“Wah! Maaf!, Punten!, Sorry!,Excuse me!, Afwan!! Afwan jiddan Katsieron pak!!” balas Ahmad , anak yang membuat sang sopir marah. Ia terus memikirkan cara untuk pergi ke sekolah. Ia mengangkat tangan tanda memohon maaf dan kebingungan mencari kata-kata untuk menyempurnakan ‘kalimat-maaf’nya.

Akhirnya mobil tersebut pergi. Dengan wajah mengerucut sang sopir tampak sinis kepada Ahmad.

“Alhamdulillah… , tidak ketabrak…..!”

Hari sudah menunjukkan pukul 06.15 WIB. Sepertinya waktu tersisa tinggal 15 menit lagi. Kendaraan-kendaraan berat sudah memenuhi jalanan. Para tukang sayur sudah memadati celah-celah pasar yang akan mereka gunakan untuk berjualan. Tidak ketinggalan pengusaha becakpun sudah mengendarai kendaraan ‘kebangsaannya’ dan mengangkut langganannya saat itu. Karyawan-karyawan pabrik dan mahasiswa sudah berlalu-lalang di depan dan belakang Ahmad. Tampak hanya bocah itu yang berdiri mematung bak patung. Akankah mission Ahmad dapat selesai? Akankah Ahmad dapat sampai ke sekolah tepat pada waktunya? Atau.. akankah Ahmad harus rela membersihkan kotoran sapi dan kambing. Apa yang akan terjadi pada Ahmad ? akankah do’a restu Umi dan Abi dikabulkan? Atau guru piket dan guru matematika akan menceramahinya saat ia sampai ke sekolah nanti. Kita saksikan di episode selanjutnya! Jangan ketinggalan!!!!!

ÞÞÞ

Hari sudah menunjukkan 06.30

Keramaian di pintu gerbang SMU Harapan Jaya tampak mulai berkurang. Seiring dengan berjalannya waktu.

Tapi tokoh utama yang kita nanti-nanti belum juga muncul.

Ahmad.

Kemanakah dia gerangan?

Pintu gerbang sedikit demi sedikit mulai menutup.

Kotoran sapi yang menggunung di halaman belakang sekolah tampaknya makin meningkatkan kadar keasamannya bahkan sudah lebih dari asam! Wueckkk!!

Peluang masuk Ahmad tampak makin menipis.

Kemana Dia!!

Kemana pahlawan cerpen ini??

“Nguiiing…….! Ngiuuung……….! Nguiiiiing…..! ngiuuuung…….!nguiiing…….!!!”

Ya!!!… Secara tiba-tiba rentetan konvoi mobil mewah tentara lengkap dengan iring-iringan sirine truk dan Jeep tentara berhenti di depan pintu gerbang SMU Harapan Jaya!. Secara beraturan mobil sedan Ferrari hijau army yang gagah dan mewah memimpin konvoi paling depan. Diikuti oleh truk-truk perang Mercedes Benz yang besar sejumlah 5 buah berbaris rapih dibelakang mobil sedan. Disusul oleh Jeep-Jeep Jaguar tentara berjumlah 15 yang antri berhenti dibelakang truk tersebut. Penjaga sekolah nampak kaget ¾ mati. Ada apa gerangan? Apakah ada kasus di sekolah tersebut? Apakah ada teroris yang bersembunyi di dalam sekolah tersebut? Atau ada Sumanto ke-2 yang tidak hanya memakan bangkai manusia, namun juga memakan bangkai sapi dan kambing ??? Ada apa ini?? ADA APA????

Kebingungan penjaga sekolah dan guru piket tampak semakin memuncak!! Titik kekhawatiran mereka sudah melebihi batas maksimal!!. Peluh dan keringat dingin sudah membasahi tubuh!!. Baju yang dikenakan sudah lembab karenanya!!. Keadaan semakin tegang dan mencekam!!!!. Bulu kuduk sudah rapih berdiri tegak!!! Ketakutan mendalam tidak dapat dibendung lagi. Kaki dan tangan sudah kehilangan rasa!!. Tak dapat digerakkan lagi. Suasana sudah diramaikan oleh alunan sirine yang berbunyi beriringan. Semua makhluk mematung tidak bergerak sejengkalpun. Semuanya berfokus pada satu titik!!! Apa itu???

“Ngekk…..!!” pintu belakang mobil sedan terbuka.

“Trak..!!.. tap… tap…” sepasang kaki mungil keluar dari mobil tersebut.

Siapa dia?

Seorang Presidenkah?

Seorang Komandan perangkah?

Seorang Sekjen PBB-kah?

Seorang W. Bush-kah?

Atau seorang Osama Bin Laden??

Ternyata tidak…..

Sesosok tubuh mungil keluar dari mobil tersebut.

Sembari menggendong tas sosok mungil tersebut menutup kembali pintunya setelah sebelumnya bercakap-cakap dengan sesosok wanita bertubuh besar yang sedang memangku anjing Dalmatian yang kecil lucu dan imut (seperti penulis he..he..he…) yang diakhiri oleh lambaian tangan kedua belah pihak.

Lalu, tanpa dikomando, iring- iringan mobil dan truk tentara meninggalkan tempat. Secara cepat, sigap dan rapih. Gemuruh sirine lama-kelamaan mulai menghilang. Bayang-bayang konvoi mulai memudar di ujung jalan dan akhirnya lenyap tak berbekas. Yang tersisa hanyalah guru piket yang terus menerus membelalakkan matanya, penjaga sekolah yang membiarkan mulutnya terbuka mangap hingga air liur membasahi atasan kaos oblongnya dan….. sosok mungil tersebut yang kaget melihat keadaan sekelilingnya. Diam mematung menatap ke arahnya.

Angin semilir menjadi ‘music background’ saat itu. Ketegangan yang mencekam kembali reda. Namun seluruh makhluk tetap mematung. Lebih dari sekedar patung.

Bocah kecil tersebut bergerak memasuki gerbang sekolah. Mencoba memecahkan kesunyian yang terjadi. ‘Patung’ penjaga sekolah pun mulai bergerak memberi jalan bagi sang bocah. Sang bocah mendekati guru piket yang juga mulai kembali ke pekerjaannya semula. Selang jarak beberapa centi, guru piket mencoba untuk memulai pembicaraan kepada sang bocah.

“A…. Ah…mad….” Guru piket dapat berbicara, namun terbata-bata.

“Ya pak, “ seru bocah itu.

Ya, Ahmad.

Akhirnya bocah itu adalah Ahmad.

Bocah yang sudah sangat sering terlambat.

Bocah yang dikira sudah terlambat, kini dapat tiba tepat pada waktunya.

Bocah yang ditunggu oleh guru piket untuk membersihkan kotoran sapi jika ia terlambat pada hari itu.

Tetapi tidak.!

Ia tidak telat!!

Ia berhasil membuktikan tekadnya.

Dan tiba dengan selamat.

“Ahmad , mereka siapa” tanya guru piket mencoba meng-interogasi.

“Alhamdulillah pak, mereka adalah orang-orang yang menolong saya.” Jawab Ahmad.

“T..ttapi, Bagaimana bisa mereka mengantarkan kamu? Apakah mereka saudaramu?”

“Bukan, Pak” senyum Ahmad.

“Atau teman Bapakmu?”

“Bukan juga Pak”. Senyum Ahmad semakin lebar.

“Lalu?” tampak alis Guru piket mengkerut sekali seperti kulit nini-nini peot.

“Mereka adalah pengiring presiden yang duduk bersama saya Pak.” Jawab Ahmad dengan yakin.

“Hah..!!!!” “Gdubrak…!!!”. Pak guru piket pingsan nggak ketulungan.

Pak guru piket akhirnya digotong oleh penjaga sekolah menuju ruang UKS dan diberi perawatan.

Seorang ibu-ibu -Yang guru piket juga- bertanya kepada Ahmad setelah itu.

“Mad, kok bisa kamu diantar oleh Bu Presiden?”

“Oh, ceritanya panjang bu,”

“Ceritakan saja Mad.” Pinta Bu guru piket.

“OK deh bu.” “ begini, saat saya berangkat dari rumah, sesampainya di jalan raya ternyata angkot mogok. Yang ada hanya becak dan andong. Saya bingung dengan apa saya pergi.”

“Lalu?” potong Bu guru piket yang udah nggak sabaran.

“Terus, saat saya berpikir keras memikirkan jalan keluar, tiba-tiba lewatlah iring-iringan konvoi di depan saya. Konvoinya ya konvoi yang barusan ibu lihat. Lalu, saat mobil Ferrari hijau army tadi lewat, tiba-tiba seekor anjing kecil melompat dari celah jendela mobil yang memang terbuka sedikit dan lari menuju keramaian pasar. Setelah itu kedengeran suara berat ibu-ibu dari dalam mobil teriak-teriak meminta tolong agar anjing tersebut dikembalikan kepadanya. Spontan aja Ahmad kejar anjing itu ke dalam pasar. Memang mamad mendapatkan anjing itu dan mengembalikannya ke pemiliknya walaupun harus masuk-masuk ke toko telur, toko ayam, sampe toko beras buat ngejar tu anjing. Akhirnya tokonya rusak dan Ahmad dimarahin. Tapi, Alhamdulillah rombongan tentara pada dateng terus ngegantiin semua kerusakan dan saya di bawa menghadap ke ibu-ibu dalam mobil tadi. Mamad bener-bener kaget waktu tau kalo ibu itu adalah Bu Presiden. Sebagai ucapan terima kasih Bu Presiden nganterin Ahmad ke sini dengan mobil Ferrari-nya itu secara “express tanpa hambatan” dan sekarang Ahmad nyampe di sini.”

“Oh…..” Mulut Bu guru Piket hanya dapat berkata itu setelah mendengar penjelasan Ahmad.

“Triiinggg……!!!” bel sekolah berbunyi pertanda masuk. Pelajaran segera dimulai.

Ahmad masuk ke kelas meninggalkan bu guru piket yang masih mematung dengan mulut terbuka lebar membentuk lingkaran.

ÞÞÞ

Akhirnya, setelah kejadian itu Ahmad dapat sampai ke sekolah tepat waktu. Ia juga tidak jadi membersihkan kotoran sapi di sekolah itu. Bu guru matematikanya tidak mengajar hari itu karena harus merawat Pak guru piket yang masih jatuh pingsan. Bahkan hari itu tidak ada jam pelajaran sama sekali karena seluruh guru termasuk kepala sekolah ingin mendengarkan terus cerita Ahmad tentang peristiwa pagi itu. Lebih wuah lagi, Ahmad diwawancarai oleh beratus-ratus wartawan media cetak yang ingin mendengarkan pengalaman uniknya bersama Bu presiden.

Begitulah ke Mahaadilan Allah. Selalu mendengarkan do’a hambanya dan yang selalu menatap apa yang dikerjakan oleh hamba-hambanya.

Setelah kejadian itu, tidak hanya 5 orang akhwat yang meneleponnya setiap hari, namun menjadi 20 ditambah dengan ibu-ibu, nini-nini, aki-aki, bapak-bapak, anak balita dan anak SD yang selalu ingin berkenalan dengannya.

ÞÞÞ

10 tahun berlalu, Ahmad berhasil menyandang gelar Lc. dari Universitas Al-Azhar, MBA dari Universitas Harvard, Ba. dari Universitas Oaklahoma serta SH dari universitas UNPAD Bandung. Dan ia telah menikahi pasangan hidup yang berhasil memenangkan kuis Hari Anda 10 tahun yang lalu, Annisa. Mereka hidup bahagia di bawah naungan Islam dan menamakan anak mereka, Abdullah Abdulhakam.

Ahmad Begins

Cerita ini berdasarkan pada cerpen “Allah Maha Adil” yang dibuat olehYahdi Yahya pada sekitar 2002 ketika beliau menginjak kelas 1 di SMA 3 Bandung. Terima kasih sebesar-besarnya saya sampaikan pada beliau atas kepercayaan yang diberikan pada saya untuk mengembangkan cerita itu menjadi sebuah serial yang berkelanjutan. Walaupun ada beberapa yang sedikit berbeda. Hehe.

23 Juli 2007, Yahya Ayyash

ÞÞÞ

Ba’da shubuh. Jl. Perjuangan 2

A

hmad terpekur di dekat telepon. Biasa. Rutinitas sehari-hari. Entah kenapa, sejak Ahmad mengikuti Pesantren kilat nasional pada ramadhan tahun lalu, banyak akhwat-akhwat yang meneleponnya. Ahmad emang ganteng. Dan belum ada artis yang memiliki kadar yang menyamai kegantengan Ahmad. Rata-rata lebih ganteng dari Ahmad. Yah, ada sih yang deket-deket. Kalo Tukul Arwana ada di peringkat 1 Triliyun, Ahmad ada di tingkat 1 Triliyun kurang 1nya. BT. Beda Tipis. Iyah…. ngaku deh.. Ahmad emang over percaya diri. Udah item, kepala lonjong, mata belo, bener-bener kaya anak pungut dari suku Aborigin Australia. Tapi, suer, Abinya orang Arab dan Uminya Jawa. Entah silsilah keluarga mana yang DNAnya nyambung ke penduduk asli Australia itu. Uminya pernah cerita sih, kalo eyang kakungnya pernah jadi pembantu di pedesaan Aborigin. Niatnya jadi TKI alias Tenaga Kerja Indonesia, tapi kena sweeping pemerintah sana. Jadinya ngungsi ke hutan rimba Australia dan memperluas pergaulan dengan suku asli Aborigin. Tetep, eyang kakung jadi pembantu di sana. Tapi, masa dari pembantu, DNAnya jadi ketularan Aborigin? O, iya! Dulu pernah inget. Sebelum mati, Eyang kakungnya pernah ninggalin surat wasiat yang pesannya jika nanti ada keturunannya yang tidak ada miripnya dengan wajah bapak dan ibunya, maka ialah yang berhak membaca surat wasiat itu. Makanya sampe sekarang Ahmad rajin bersilaturahim ke semua rumah saudara lalu ngoprak ngoprek semua database dan gudang rumah hanya untuk mencari surat wasiat itu. Ahmad yakin, bahwa dialah orang yang Eyang maksudkan itu. The Chosen! Cieh….

Duh! Tumben gak ada yang nelepon. Biasanya jam segini udah padet bandwithnya. Tapi kok hening ya….

Kriiingg….! Kriiingg….!

Nah! Ada juga yang nelepon. Hmf… Bismillah, Ya Allah, jaga aku dari fitnah akhwat, Aku gak mau pacaran. Dan aku masih jauh untuk memikirkan pernikahan. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Memperbesar jaringan, dan berda’wah. Sembari selalu menceritakan pengalamanku bertelepon dengan akhwat kepada Umi tercinta, agar hati tetap terjaga. Umi selalu berpesan, apes banget kamu mad, udah fitnah menghampiri wajahmu, sekarang fitnah akhwat menghampirimu juga, tabah ya nak. Iya Umi, Ahmad tabah. Nanti beliin cream lotion pengencang kulit yah.. Kulitku udah keriput nih saking tabahnya…..

Cklek!

“Halo, Assalaamualaikum…” Ahmad memulai percakapan.

“Halo, dengan Bapak Sidomun? Bapak, anak anda, Muncul, sedang kami sandera. Ia baik-baik saja. Tapi… Jika Bapak tidak menyerahkan uang sebesar 500 juta ke rekening yang kami SMS-kan kemarin maka jangan bersedih jika jari-jari lentiknya akan hilang satu per satu setiap satu jam dari jam 10 Pagi ini..! Ha! HaHAHa! HaaHaaaa….!!!!” Tiba-tiba saja suara cempreng menggema di seberang sana.

Kutukupret……….

“Halo, pak, Ini Ahmad bukan Bapak Sidomun. Dan saya belum pernah punya anak. Kalaupun punya Anak gak akan saya namain anak saya dengan nama sejelek itu. Muncul? Apa gak nama yang lebih keren apa? Jadi, dengar ya pak, Bapak salah sambung! Ngerti!!”

Tiba-tiba suara cempreng itu melemah, malu merasakan kebodohannya. “Ho? Salah sambung ya? Ini benar 98019168?”

“Bukan! Tapi 89161086! Kertas yang bapak baca terbalik! Makanya jangan males! Kalo nulis nomer telepon, tulis sama nama orangnya juga! Jadi gak kebalik bacanya!”

“Ho……”

“ Iya betul! Pengawal saya baca kertasnya terbalik waktu mencet tombol telepon. Ade pinter banget ya? Maaf ya de…. Jarang-jarang lho ada orang sepinter ade, kapan-kapan om boleh telepon ade ya?”

Cklek! Suara telepon beradu dengan dudukannya. Waduh, malang nian nasib si Ahmad. Udah salah sambung, tukang culik pula yang meneleponnya, trus mau nelepon lagi kapan-kapan…. Apes.. apes….

Tapi, emang begitu. Akhwat-akhwat yang menelepon, termasuk om penculik tadi tertarik dengan Ahmad bukan dari segi fisiknya.(Iyalah… Aborigin… Aborigin…) Tapi lebih ke arah kecerdasan yang dimiliki Ahmad. Di Pesantren kilat Nasional kemaren Ahmad memenangkan juara sebagai Santri terbaik Nasional. Hafalan qurannya sudah 2 Juz. Lumayan untuk seorang anak SMP. SMP?. Eh, iya lupa. Ahmad adalah seorang bocah yang sekolah di kelas 1 SMP 347 Bandung. Tapi terkenalnya sekolah ini dipanggil SMP ITSAR. IT dari angka 347 yang di-“huruf” kan menjadi “E”, “A”, dan “T”, “EAT”. Dan SARnya…. Ah, nanti juga ketahuan. Udah bisa ditebak, Ahmad sering menyabet juara umum di sekolah tersebut. Emang sih, Ahmad belum pernah test IQ. Tapi sewaktu TK, Ahmad udah bisa kali-kalian lho. Kalo gurunya nanya, “Ahmad! Satu dikali satu berapa?” Ahmad langsung menjawab “Satu!!” “Pinter!, Nah sekarang kalau dua dikali dua berapa?” Dengan wajah polos Ahmad menjawab, “Dua!! Kalau tiga dikali tiga…. Tiga!!!!”

Kriing! Kriing!

Telepon berdering untuk yang kedua kalinya. Kali ini siapa yang menelepon ya? Apa tukang jambret? Ato tukang Abu gosok? Ya.. Kali aja mau promosi lewat telepon.

Bismillahirrahmaanirrahim…. Cklek!

“Halo? Assalaamualaikum…”

Kali ini bener! Suara akhwat. Ahmad udah nyiapin jawaban yang bakal diajukan. Biasanya sih nanyain nama lengkap, alamat dan no. HP. Baru setelah itu ada yang menyampaikan kesan senangnya bisa menelepon Ahmad atau langsung curhat mengenai masalah kehidupan. Ada yang nanyain, pacaran itu boleh gak.., Atau, gimana caranya belajar yang efektif. Tapi ada juga yang parah sampe nanya ukuran dan warna sepatu. Awalnya sih Ahmad seneng banget. Dipikirin bakal dikasih sepatu, tau-taunya dia cuman nyari santri yang sepatunya ketuker ama yang dia punya, soalnya yang punya dia masih wangi n fresh, kok pas keluar dari masjid udah butek dan gak berbentuk lagi! Untuk yang terakhir ini peneleponnya laki-laki. Wajar.

“Walaikum salaam… Ini Ahmad, saya tinggal di—“

“Ahmad….”

“Tolong saya…” Cklek!

“Ah.. Halo? Halo?! Sia—“

Tuuuuuuuuuut………………….

Telepon seberang sudah tak bernapas, meninggalkan Ahmad dalam kebingungan. Bingung. Bingung karena Ahmad tak tahu siapa yang menelepon. Dan tak tahu apakah ini memang telepon untuknya, atau salah sambung seperti yang tadi. Tapi… Tidak mungkin. Tidak mungkin salah sambung. Kata-katanya sangat jelas terdengar di telinga. Ia menyebut namanya. Akhwat itu menggerakkan lidahnya, dan mengatakan dengan jelas kata “Ahmad”. Ahmad. Tak ada kata atau nama yang mirip dengannya. Ahad, Amad, Akhwat, Kumat…. ah, Ahmad yakin, gadis itu menyebut sebuah nama. Dan nama itu adalah Ahmad, bukan yang lain. Tapi, buat apa ia meminta tolong? Ini bukan minta tolong biasa. Bukan minta tolongnya Umi yang minta dibelikan garam di warung. Atau minta tolongnya Abi yang minta dibeliin parem kocok di pasar. Ini… minta tolong yang….. aneh. Ia meminta tolong, tetapi dalam nada suara yang tenang, tidak panik atau heboh. Tidak juga menggambarkan bahwa ia sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan. Dasar akhwat. Makhluk yang aneh…..

Ah, udah ah, bisa juga dia tukang teror dari SMP ITSAR. Yang iri dengan popularitas Ahmad di seantero jagat raya. Ah, udah ah. Pusing!

“Siapa Mad?” Wajah cute Umi langsung muncul di hadapan.

“Gak tahu tuh Mi, Akhwat. Tapi cuman ngucapin 3 kata doang dan langsung ditutup”

“Apa kata-katanya?”

“Ahmad. Tolong. Saya.”

“Emang dia gak ngucapin salam?”

“Ih..! Umi! Abis solat udah langsung becanda! Ya iya dong Mi, pake salam..!”

“Deuh… segitu keselnya anak Umi dibecandain… Awas lho.. keriputnya nambah lagi….”

“ Iihh…..—!“

“Ya, iya… ampun.. Umi ngaku salah.. Gak enak ah, orang ganteng cemberut kayak gitu..”

Tuing! Umi tau aja senjata rahasia kalo ngadepin Ahmad yang doyan ngambek. Puji aja kegantengannya. Pasti jinak. Tuh kan, wajahnya udah merah merona semerah buah persik. Tuing!

“Udah, sana cepetan mandi, anak mama yang ganteng….”

“Ya, udah. Mad mandi dulu ya, Umiku yang cu-te cu-te…” Ahmad beranjak pergi ke kamar mandi setelah menggemas pipi uminya yang pikagemeseun itu.

Tak ada yang secantik Umi di dunia ini. Tidak Cindy crawford, tidak juga Britney spears. Mereka cantik kalo udah pake make-up. Kalo Umi, gak pake make-up pun dah pantes memenangkan kontes putri Indonesia, Miss Universe, atau Miss world. Mad pernah nanya, kenapa Umi gak ikutan aja kontes kecantikan itu. Pasti Umi menang. Tapi Umi hanya menjawab, kecantikan fisik bukan untuk diboroskan dan diumbar ke seluruh pasang mata. Kecantikan adalah berlian. Semakin mahal berlian itu, semakin sedikit orang yang bisa melihatnya, apalagi menyentuhnya.

Matahari menyeruak di balik awan. Jilatan apinya terurai membentuk senyuman di pagi hari. Garis-garis cahayanya mengguratkan lukisan alam di kanvas langit kota bandung. Bumi sudah bangun. Bunga-bunga pun bermekaran. Alunan serenade burung pipit mengiringi hembusan angin yang hilir mudik silih berganti. Kini saatnya khalifah bumi untuk meneruskan tugas pemerintahannya. Belajar, beribadah dan bertindak. Selimut hangat sudah disingkirkan. Asap dapur sudah mengepul sejak fajar tadi dan kamar mandi sudah ricuh dengan hantaman air di dinding pembatasnya.

Kamar mandi. Ngomong-omong Ahmad belum keluar juga dari kamar mandi. Sudah 20 menit. Aduh… kena deh….

“Ahmad!!!! Kamu ngapain aja di kamar mandi?!!”

“AHMAD!!!!”

Gubrak! Gubrak! Gubrak!

Pintu kamar mandi digedor cukup keras.

“Ahmad!!

“Iya Abi.. Ampun…! Ahmad cepet keluar! Ampun!” Suara Ahmad tampak panik di dalam sana. Tampaknya ia sedang mencoba membedakan mana sabun cair dan mana shampo. Kan bisa berabe kalo ketuker.

Selang 2 menit, ahmad sudah keluar dari kamar mandi.Kayaknya dia gak jadi mandi dan sabunan. Cuman sempet gosok gigi. Ahmad keluar pake handuk punya Abi. Ukurannya XL. Jadinya seluruh tubuh Ahmad tertutup handuk mirip pocong tanpa kapucon alias penutup kepala. Untung warna handuknya kuning. Jadi gak pocong-pocong amat. Hehe…

“Kok lama banget sih Mad?” Abi tiba-tiba menginterogasi.

Aduh! Masa kasih tahu kalo dari tadi Ahmad merenung, penasaran sama si Akhwat 3 kata itu. Akhwat 3 kata. Bagus juga panggilannya. Kira-kira siapakah dia? Anak sekolah kah? Atau sama-sama peserta pesantren kilat nasional? Ingin Ahmad mikir lebih dalam tetapi gedoran pintu kamar mandi mebuyarkan konsentrasinya.

Ahmad hanya diem sembari nyengir.

“Cepetan pasang bajunya. Abi mau mandi juga. Bentar lagi Abi mau ke kampus. Ada wisudaan mahasiswa”

Abi adalah seorang dosen elektro di ITB. Tubuhnya tegap, tinggi, wajahnya rupawan. Pantes Umi mau nikah sama Abi. Cakep gitu! Rambutya kalau pendek bergelombang. Tapi, kalau rambut dekat telinganya memanjang, jadi kelihatan kriwel-kriwel. Lucu. Sepertinya Allah ngasih alarm alam pada Abi. Kalau rambutnya udah mulai kriwel-kriwel, tanda Abi harus potong rambut. Tapi, kalau rambutnya dibiarin panjang, brewoknya juga ikut tumbuh. Wah, semakin macho kalo udah kaya gitu. Tapi sekarang semuanya harus dipangkas. Karena Abi harus menghadiri wisudaan anak ITB yang kedua di tahun 2007 ini. Jadi harus rapih.

“Nih, Bi, handuknya. Makasih ya.”

………… “Kamu yakin udah mandi?” wajah abi mengernyit.

“Iya Bi, Mad udah mandi. Udah kaya Brad Pitt gini, masa dibilang belum mandi? Nih, yah Bi, Mad kasih tahu. Gak Mandi aja Mad udah mirip AA gym waktu muda. Kalo mandi sekali, Kegantengan Mad bertambah jadi seganteng Brad Pitt. Kalo Mandi plus wudhu, naik lagi level gantengnya jadi seganteng Nabi Muhammad, Nah.. kalo mandi plus wudhu plus menicure pecidure plus— ”

“Plus kulit kamu diampelas 15 menit sama dipernis 5 kali lapis bolak balik baru mirip Nabi Yusuf! Gitukan yang mau kamu omongin?” Nujleb, becanda Abi kumat lagi. Gak tahan Abi sama kelakuan anaknya yang narsis itu. Ahmad cuman bisa ngelongo. Mata belonya semakin berkontraksi kayak abis disambar petir. Jelegerrr!

“Pinjem tangan kamu.”

“eh, maksud—“

Tak sempat. Abi sudah memegang jemari kanan Ahmad dan meregangkan telunjuk Ahmad.

“Nih apaan..?” Abi menyentuhkan telunjuk Ahmad dengan sesuatu yang… dingin, lengket, dan basah…..

“Kamu jorok ah! Ingus sendiri aja masih kamu pajang di wajah kamu!”

“Hah! Waaaaaaah!!! Ini bukan dipajang Bi, Ini…, Ini….. WAAAaaaaaaaahhhh!”

Ahmad kalap! Mata belonya semakin mbulet sebesar-besarnya dan langsung terbirit ke WC memebersihkan wajahnya sebersih-bersihnya.

Tragedi pagi pun terjadi. Ahmad, si pembuat ulah itu sudah bikin gara-gara sebelum berangkat sekolah. Sebelum cabut, Ahmad sekali lagi mencek tata mukanya. Apakah sudah rapih dan ganteng? Sudahkah ingus itu punah dari wajahnya? Dia periksa sela-sela matanya. Masih adakah butiran kuning mengendap? Ah, sudah tidak ada. Ahmad yakin sudah mandi. Sudah tidak ada cileuh di sudut rongga matanya.

Kini ia siap beraksi. Menjawab sapaan matahari dan lambaian dedaunan rindang di pinggir jalan, menjelang jalan ramai tempat ia akan berlabuh ke persinggahan selanjutnya. It’s time to Rock! Being a student and reach the highest place of a muslim could reach. Hayya alal falah!!!!!

One Response

  1. hahahaha…..aya ayak wae si akang ini……BTW eniwe Buswey……asik jg cerpennya….di tunggu kelanjutan akhwat 3 kata nya lho ya….aborigin …aborigin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: