Dont be anyone, just be your self

 

images.jpgSetiap orang adalah pribadi yang unik. Setiap orang adalah pribadi yang.. Aneh. Masing-masing dari kita adalah berbeda dengan orang lain. Masing-masing dari kita tidak bisa dibanding-bandingkan begitu saja kecuali hanya perbandingan parsial saja. Kalau ditanya siapakah manusia terbaik di dunia, maka  jawabannya akan beragam. Bagi  kita  seorang muslim tentu sebagian besar akan menjawab bahwa Rasulullah lah manusia yang terbaik di dunia. Keshalehannya, rupa wajahnya, keberaniannya, dan kesabarannya tidak akan ada yang bisa menandingi beliau. smeua kebaikan berpadu dan sinergis dalam tubuh seorang manusia. Bagi pemeluk Nasrani mungkin akan menjawab bahwa Yesuslah manusia (atau Tuhan?) terbaik di dunia. Bagi orang jerman, maka Mungkin Hitler lah orang yang terbaik di dunia. Dan berbeda jawaban pula untuk orang-orang lainnya. Bisa jadi setiap orang memiliki pandangan yang berbeda mengenai siapakah orang yang terbaik di dunia. Semakin kita mengeksplore mengenai pribadi-pribadi yang terbaik, maka terbersit dalam hati maka ingin juga kita menjadi mereka. Menjadi orang yang berarti bagi orang lain. Menjadi seseorang yang terbaik yang pernah ada. Hidup ini hanya sekali, maka jadilah yang terbaik.

Tetapi, terbaik seperti apa? Ingin menjadi berarti seperti apa? Selalu kebingungan itu yang menyerang otak dari segala penjuru. Serasa seluruh akson dan dendrit di otak tersedak  oleh perasaan ini dan hanya bisa lega setelah pertanyaan ini terjawab sudah. Dalam fase hidup kita jawaban ini berubah-ubah seiring dengan pertumbuhan jiwa kita. Sewaktu kecil, kita melihat bahwa pribadi terbaik ada dalam diri bapak dan ibu kita. Lambat laun, karakter dan perilaku orang tua kita tiru dan menjadi input perdana yang menghiasi kamus karakter jiwa kita. Setiap anak cenderung meneladani apa yang ayah dan/atau ibunya lakukan. Bapak dan ibu yang pemarah akan membentuk anak yang berjiwa keras. Kata Psikolog, fase anak-anak adalah fase imitasi alias meniru keadaan lingkungannya. Lihat, betapa senangnnya  kita dulu waktu kecil meniru gerak kodok dengan meloncat-loncat atau gaya gajah memainkan belalainya. Bagi perempuan senang menggunakan kostum bunga matahari dan melengak – lenggok ke kiri dan ke kanan seolah tertiup angin (hehe.. lucu juga kita ya waktu kecil?). Beranjak remaja kita cenderung dekat dengan lingkungan luar kita, lingkungan SMP dan SMA. Di sini definisi standard terbaik bergeser dari model orang tua menjadi teman sebaya kita. Kadang kita iri dengan teman yang lebih pintar dari kita. Sebagian lagi merasa orang yang sudah pacar adalah standar dari pribadi yang terbaik. Sebagian lagi merasa bahwa memiliki baju mewah atau gadget yang high tech adalah standar dari seorang manusia yang paripurna. Secara alamiah kita ingin menjadi mereka juga. Secara alamiah, kita akan meniru mereka.

Peingkatan pola pikir semakin terasa ketika kita memasuki masa pra dewasa. Kekritisan berpikir, analisis yang tajam, dan tidak mau menerima begitu saja adalah ciri-ciri yang umur dari fase ini. Kita mulai mengkritisi kebijakan orang tua kita. Kalau dulu segala dituruti, tapi, ops, sekarang tidak lagi. Kita mulai mencari jati diri. Siapakah saya? Pribadi apakah kita? Pelampiasan yang posiif dari gejala ini adalah ketika kita mencari tahu siapakah dirikita dengan bertanya pada yang ahli atau menggali ilmu dari berbagai literatur. Namun ada juga yang justru melampiaskannya pada perilaku amoral. “Pacaran tingkat tinggi”, ngedrugs, vandalisme, membantah guru, ngegank, salah pakai kostum sering dilakukan untuk menunjukkan bahwa kita sudah dewasa. Seperti kabut, fase itu menyejukkan tapi kalau tidak jeli pandangan kita dirabunkan olehnya.

Kini kita (atau tepatnya saya?) mengalami lagi satu proses metamorfosis jiwa fase kesekian di bangku kuliah atau sekitar umur 18 sampai duapuluhan. Rasanya dunia sekarang sudah berbeda. Teman-teman  sudah banyak ngomongin jodoh dan pekerjaan. Mau akhwat yang seperti apa? Mau kerja dimana? Bacaannya udah beda. Kalau dulu buku-buku  tips belajar yang sukses atau adab dalam pergaulan, sekarang adalah “Jadi orang gajian atau wiraswasta?” atau “Nikah dini yuk!!”. Maka pandangan pribadi terbaik pun bergeser ke arah dunia yang lebih realistis. Ini mengenai tanggung jawab dan harga diri. Mengenai masa depan.

Saya tidak tahu bagaimana kehidupan di umur 25 ke atas. Problematikanya, atau ciri-ciri sosiopsikoekonomi yang mengiringinya. Tetapi saya pikir jiwa ini akan semakin matang dan mencapai puncaknya di sekitar umur 25 hingga 30 tahunan. Mungkin di fase itu adalah puncak dari gunung emosi yang kita daki selama ini. Di puncak itu juga akan kita dapatkan keluhuran dan kebijakan yang  agung yang pernah kita miliki. Tapi tidak tahu seperti apa. Setelah itu ada orang yang bisa bertahan dalam kondisi kematangannya, atau tidak kuat melewati hidup. Tidak tahu perasaan realnya seperti apa. Harus wawancara dulu kayaknya.

Lantas, pertanyaan utama belum terjawab. Kita mau jadi terbaik seperti apa? Kok kayaknya definisi terbaik di setiap fase hidup berbeda-beda. Di waktu tua mungkin orang yang punya keluarga sakina, mawadah, dan warohmahlah yang menjadi standar terbaik dari fase hiduo manusia saat itu. Mungkin.

Seperti statement saya di awal. Setiap pribadi kita unik. setiap pribadi kita… Aneh. Maka jawaban terbijak adalah jadilah diri kita sendiri yang terbaik menurut kita walaupun menurut orang itu biasa-biasa saja. Pandangan ini selaras dengan standar manusia terbaik menurut Al-Qur’an. Inna Akromakum ‘indallahi Atqokum .  Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling bertakwa.  Ya, apapun diri kita, mau menjadi Dokter atau Entertainer, Guru atau Mahasiswa, maka jadilah pribadi yang bertakwa sebagai ruhyang menjadi jiwa dari setiap peran kita. Takwa seperti pupuk bagi setiap jenis tanaman di jagat raya ini. Tanaman boleh berbeda, tapi pupuk haruslah yang terbaik, sehingga menguatkan akar, meneguhkan batang dan menyuburkan daun serta melentikkan mahkota.

Dont be anyone, just be your self.

One Response

  1. […] Helmy Yahya dan ide-ide briliannya. Saya pikir ini “orang aneh” (baca post saya “Dont be anyone, just be yourself” yang bisa menjadi dirinya sendiri. Tak banyak orang seperti beliau. Kalau orang umumnya berpikir […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: