Fiqih Tafakur : dari Perenungan menuju Kesadaran

1.A.     BAB I : PENDAHULUAN

Dan banyak sekali Tanda-tanda (Kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. (Yusuf 12:105)

Bagian 1 Urgensi Tafakur :

    Dalam kedudukannya sebagai ibadah

    Dalam mengarahkan perilaku seorang muslim

Aktivitas berpikir manusia mengarahkan perilaku dan tindakan luarnya. Apa yang dipikirkan, dirasakan, direspon dan diketahui manusia pada tingkat perasaanlah yang membentuk gambarannya terhadap kehidupan, mewarnai keyakinan dan nilai-nilai hidupnya dan mengarahkan perilaku-perilaku luarnya. Tiap sifat yang ada dalam hati akan menampakkan pengaruhnya pada anggota tubuh.

    Dalam meningkatkan keimanan.

Seseorang yang melakukan aktivitas tafakur secara terus-menerus maka ia akan menjadi kebiasaan yang baik; hatinya khusyuk dan ia hanya akan merespon stimulus-stimulus positif dari lingkungannya karena adanya perasaan-perasaan yang bersumber dari tafakur itu yang mendominasi aktivitas berpikir internalnya.

Bagian 2 Sisi-sisi tafakur untuk mengambil ‘ibrah :

    Sisi pemikiran (fikri)

    Sisi perasaan (‘athifi)

    Sisi emosi (infi’ali)

    Sisi pengetahuan (idraki)

Bagian 3 Al Qur’an Mengajak Bertafakur

•    Dengan mengingatkan nikmat-nikmat Allah. Tafakur dan i’tibar berlangsung dalam suasana yang penuh limpahan kasih sayang-Nya

Dan Allah Menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu Dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat Tanda-tanda (Kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran) Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami Memberimu minum dari apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (An-Nahl 16:65-66)

•    Terkadang dengan nada keras disertai ancaman-ancaman

Ditujukan pada hati orang-orang kafir

Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan dibelakang mereka? Jika Kami Menghendaki, niscaya Kami Benamkan mereka di bumi atau Kami Jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat Tanda (Kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya) (Saba’ 34:39)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (Al Ghaasyiyah 88:17-20)

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami Pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami Jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Al-Anbiya’ 21:30)

•    Ada juga dalam bentuk pujian bagi ulil albab

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(lalu berdoa), ‘Ya Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab api neraka.’ (Ali Imran 3:190-191)

“Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun. Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kalian kepada Rabb kalian’, maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan, janganlah Engkau hinakan kami dihari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (. Ali Imran 3:192-194)

“Sesungguhnya alam wujud ini indah. Keindahannya tak akan habis-habisnya. Manusia mampu mengetahui dan menikmati keindahan ini sampai kepada batas yang tak terhingga, sesuai apa yang ia inginkan dan apa yang diinginkan oleh Penciptanya baginya. Unsur keindahan adalah sesuatu yang disengaja dalam wujud ini. Sebab keapikan dari penciptaan tersebut membuat fungsi segala sesuatunya berjalan sempurna sehingga sampai kepada tingkat keindahan. Kesempurnaan susunan wujud ini tercermin dalam bentuk yang cantik pada setiap anggotanya dan pada setiap ciptaan. Pandanglah lebah dan bunga. Demikian pula bintang, malam, pagi, bayang-bayang, awan dan seluruh orkestra yang bergema di alam wujud ini. Keharmonisan dan keselarasannya benar-benar sempurna! Inilah dia perjalanan yang menyenangkan pada alam yang susunan penciptaannya sangat cantik ini! Al Quran mengajak kita untuk memperhatikannya karena Ia telah berfirman, “Tidakkah mereka memperhatikan?” Firman ini membangunkan hati agar siap untuk mengamati setiap tempat keindahan yang ada di dalam wujud yang raksasa ini.”
Bagian 4 Tafakur membawa kepada pemikiran terhadap dunia dan akhirat

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah Menerangkan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir, (Al-Baqarah:219)

tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah, “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah Mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah Menghendaki, niscaya Dia dapat Mendatangkan Kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqarah:220)

1.B.     BAB II : MARHALAH (TAHAPAN) TAFAKUR

    Tahap pertama : As-Syuhud (penyaksian)

Tafakur berawal dengan pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi langsung, dengan panca indra. Juga dengan cara tidak langsung (seperti fenomena berkhayal)

Umumnya pengetahuan-pengetahuan ini tidak memiliki keterkaitan dengan segi-segi perasaan dan emosi.
    Tahap kedua : Tadzawwuq (merasakan, menikmati)

Yaitu bila manusia mencoba mengamati objek tafakurnya lebih jauh dengan memperhatikan keindahan karakternya, keapikan pen-ciptaannya, maupun kekuatan & keagungannya. Kadang hati berge-tar karenanya, tak peduli apakah itu hati orang mukmin atau kafir.

Rasa takjub akan keindahan dan keagungan ciptaan Allah maupun perasaan akan kelemahan fisik dan jiwa yang ada dalam diri manusia, adalah satu fitrah yang telah ditanamkan Allah dalam diri manusia agar ia mau memperhatikan langit dan bumi.

Tetapi kadang pula tadzawwuq itu bersifat emosional dan negatif sehingga tafakur terhadap hikmah dari pemandangan-pemandangan negatif tersebut justru membuat orang yang bertafakur ingin menjauhinya, merasa takut atau merasa jijik dengannya.

Pemandangan-pemandangan seperti itu mengajak manusia untuk bertafakur dan i’tibar (mengambil pelajaran) dengan cara yang berbeda dengan tafakur yang biasa menggunakan metode tadzawwuq yang penuh kedamaian. Dan bisa jadi pemandangan tersebut memberikan pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan metode tadzawwuq yang penuh kedamaian.
    Tahap ketiga

Yaitu apabila dengan perasaan diatas, manusia berpindah menuju Sang Khaliq, maka ia mendapat tambahan kekhusyukan mengenal Allah beserta seluruh sifat-Nya yang agung.

Pada umumnya, orang mukmin yang telah sampai kepada tahapan kedua, pasti akan bergerak – dengan segala perasaannya yang bergelora itu – menuju Sang Pencipta dan Pengatur Yang Mahasuci. Ia juga akan merasakan bahwa disinya hina dan kekuatannya begitu lemah di hadapan ayat-ayat kauni (alam) yang disaksikannya di langit dan di bumi.
    Tahap keempat

Yaitu dimana tafakur telah menjadi kebiasaan yang mengakar dalam dirinya. Sebelumnya, perenungan semacam ini hanya dapat ia peroleh karena adanya pengalaman-pengalaman yang berkesan dan kejadian-kejadian unik dari lingkungannya. Secara bertahap, seiring dengan makin banyaknya waktu yang ia habiskan dalam merenung, aktivitasnya ini akan makin menguat. Segala sesuatu yang dulunya tampak biasa, kini berubah menjadi sumber kekayaan baginya dalam berpikir, menghadirkan rasa khusyuk dan perenungan terhadap berbagai nikmat Allah.

Saat itu, bila pandangannya jatuh pada satu makhluk, maka makhluk itu menjadi petunjuk baginya untuk mengenal Penciptanya beserta seluruh sifat-Nya yang sempurna dan agung.

1.C.     BAB III : DIMENSI-DIMENSI TAFAKUR

•    Tafakur terhadap keindahan/kesempurnaan alam

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi ,silih berganti malam dan siang bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia ,dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (keringnya)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan ,dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi ;sungguh (terdapat)tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.  [QS.Al-Baqarah:164]

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(lalu berdoa), ‘Ya Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab api neraka.’ (Ali Imran 3:190-191)

Ibnu Qayim, dalam bukunga Madarij as-Salikin berkomentar, bahwa hamba yang rajin bertafakur dan berdzikir akan dibukakan baginya selalu pintu, “… untuk melihat Yang Maha tinggi sehingga ia seolah-olah melihat dan menyaksikan-Nya ada di atas langit-langit-Nya, ber-semayam di atas ‘arasy-Nya sambil menatap makhluk-Nya, mende-ngar suara-suara mereka serta mengetahui isi hati mereka. Kemu-dian dibukakan baginya pintu untuk merasakan peristiwa-peristiwa dahsyat yang akan terjadi di hari kiamat. Ia dapat menyaksikan seluruh perubahan yang terjadi di alam semesta dan betapa semua yang ada ini benar-benar berjalan di bawah kekuasaan Allah Yang Mahasuci lagi Maha Esa. Pada saat itu, ketika pandangannya jatuh kepada satu makhluk, secara langsung pandangan tersebut mem-buktikan adanya Pencipta beserta seluruh sifat-Nya Yang serba sempurna. Tak ada lagi yang menghijabnya dari Allah, bahkan seluruh makhluk memanggil-manggilnya dengan caranya masing-masing. Seolah-olah semua makhluk berkata kepadanya, ‘Dengar-kanlah penyaksianku untuk Dia yang telah menciptakan segala sesuatunya dengan sempurna. Akulah ciptaan Allah yang telah menciptakan segala yang ada dengan cara yang sebagus-bagusnya.’ Apabila ia terus berada dalam kondisi seperti ini, segenap alam semesta akan dienyahkan dari hatinya, sehingga yang tersisa hanya Allah Yang Mahatunggal lagi Mahakuasa. Cahaya makrifat, mu’amalah, kejujuran, keikhlasan dan mahabbah akan memancar dari hatinya, seperti memancarnya sinar matahari dari bulatan planetnya.”

•    Tafakur terhadap musyahadah (penglihatan) berbentuk pengalaman-pengalaman menyedihkan, menakutkan atau menjijikkan.

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah Menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadany, “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Al-Qashash 28:76)

Dan carilah pada apa yang telah Dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat Baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qashash 28:77)

Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah Membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Al-Qashash 28:78)
Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkata orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (Al-Qashash 28:79)

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, Pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh Pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (Al-Qashash 28:80)

Maka Kami Benamkanlah, Qarun beserta rumahnya kedalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap Azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (Al-Qashash 28:81)

Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu, berkata, “Aduhai, benarlah Allah Melapangkan Rezeki bagi siapa yang Dia Kehendaki dari Hamba-hamba-Nya dan Menyempitkannya; kalau Allah tidak Melimpahkan Karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah Membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (Nikmat Allah).” (Al-Qashash 28:82)

“Apakah mereka itu tidak berkelana di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? Orang-orang (dahulu) itu lebih kuat daripada mereka dan telah sanggup mengolah tanah serta memakmurkan bumi lebih banyak daripada yang pernah mereka makmurkan. Kemudian datanglah para Rasul kepada mereka, membawa petunjuk yang jelas. Allah sama sekali tidak berlaku zalim terhadap mereka akan tetapi merekalah yang berlaku zalim terhadap diri mereka sendiri. Kemudian hukuman bagi orang-orang yang berbuat jahat ialah (azab) yang lebih buruk, karena mereka itu mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olok.” (Ar:Rum:9-10)

•    Bertafakur terhadap Diri Sendiri

Dan di bumi itu terdapat Tanda-tanda (Kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, (Adz Dzariyat 51:20)

dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (Adz Dzariyat 51:21)

Katakanlah, “Berjalanlah di(muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah Menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah Menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Ankabuut 29:20)
“Manusia adalah keajaiban besar di bumi ini. Tetapi kadang ia lupa akan nilai dirinya dan berbagai rahasia yang tersembunyi di dalam dirinya itu. Ini bisa terjadi ketika hatinya kosong dari keimanan dan jauh dari nikmat keyakinan. Manusia adalah keajaiban: dalam struktur tubuh dan rohaninya,  serta seluruh rahasia yang ada di dalamnya. Manusia adalah keajaiban lahir dan batin, sebab ia mewakili unsur-unsur yang ada di semesta ini.
Kamu mengira dirimu tubuh yang kecil

padahal di dalamnya terdapat alam yang besar
Ketika manusia mengamati dirinya, niscaya ia akan dikejutkan oleh berbagai rahasia di balik struktur dan pembagian organ tubuh, fungsi-fungsi dan caranya melakukan fungsi-fungsi tersebut, rahasia-rahasia ruhnya beserta kekuatannya, baik yang diketahui maupun yang masih tersembunyi. Ia juga akan heran dengan pengetahuan yang ia miliki dan bagaimana ia bisa memperoleh pengetahuan tersebut, bagaimana mengimpan dan mengingatnya, dan di manakah pengetahuan itu bersemayam dan dengan cara bagaimana? Juga terhadap seluruh gambaran, mimpi dan penglihatan yang ada padanya; bagaimana semua itu membawa pengaruh dan dimanakah gerangan ia bersembunyi? Lalu bagaimana ketika semua itu dipanggil tiba-tiba saja hadir. Ini baru bagian yang diketahui dari sebagian kekuatan tersebut, padahal yang tersembunyi masih banyak sekali.

Kemudian ia juga akan heran terhadap rahasia-rahasia di balik pemilahan jenis kelamin dalam proses kelahiran dan pewarisannya. Ia akan takjub jika melihat bahwa satu sel ternyata membawa seluruh karakter manusia, karakter kedua orang tua dan kakek-neneknya yang masih tergolong kerabat dekat. Di manakah gerangan seluruh karakter itu bersembunyi di dalam sel kecil tersebut? Bagaimana ia sanggup menemukan jalan sejarahnya yang panjang, padahal ia melakukan itu semua dengan sangat rapi, hingga ia muncul dalam bentuk manusia yang ajaib ini?” (Sayid Qutub, Fi Dzilal al-Qur’an)

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At Tiin 95:4)

Dia Menciptakan langit dan bumi dengan (Tujuan) yang Benar, Dia Membentuk rupamu dan Dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali(mu). (At-Taghabun 64:3)

Dan sesungguhnya Kami telah Menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami Jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami Jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami Jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami Jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami Bungkus dengan daging. Kemudian Kami Jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang Paling Baik. (al-Mu’minun 23:12-14)

Katakanlah, “Dia-lah yang Menjadikan kamu dan Menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.” (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (Al-Mulk 67:23)

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami Menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! (Yaa Siin 36:77)

Bukankah Kami Menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami Letakkan dia dalam tempat yang kukuh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami Tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik Yang Menentukan. Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Al Mursalaat 77:20-24)

Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. (Al Qiyaamah 75:1-4)

•    Tafakur terhadap Hal-hal Gaib dan Batas-Batasnya

Tafakur adalah ibadah merdeka dan bebas dari ikatan apa pun, kecuali terhadap Dzat Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. (Allah terbebas dari ikatan ruang dan waktu yang mengungkung manusia. Manusia mustahil mampu menggambarkan suatu peristiwa bila tidak dikaitkannya dengan tempat dan waktu tertentu.

“Pikirkanlah olehmu ciptaan Allah, dan janganlah kalian pikirkan Allah, karena sesungguhnya kalian mustahil mengetahui hakikat-Nya.” (HR. Abu Na’im)

Tetapi orang beriman tidak dilarang bertafakur tentang kematian, alam kubur, akhirat dan seluruh fenomena gaib karena mereka juga merupakan makhluk Allah yang memiliki kemiripan dan ilustrasi dalam kehidupan dunia.

Para ulama sangat mendalam ketika melakukan tafakur dan tadabur tentang kematian, alam kubur dan hari akhirat. Dalam kitab “Kitab at-Tawahhum”, Haris bin Almuhasibi memaparkan fenomena-fenomena gaib dan tafakur terhadapnya dengan cara yang menggetarkan. Almuhasibi memberikan penggambaran yang detail sehingga seluruh peristiwa tersebut seolah-olah jelas di depan Anda secara nyata.

“Bayangkanlah bahwa diri Anda tengah digumuli kematian sehingga Anda tidak akan terlepas darinya kecuali bila Anda telah dikumpulkan di hadapan Tuhan. Bayangkanlah bahwa diri Anda berada dalam cengkeraman kesulitan dan gentingnya kematian. Mulanya malaikat menarik roh Anda melalui kedua belah kaki Anda sehingga Anda merasakan sakit luar biasa pada kedua belah kaki Anda tersebut. Kemudian tarikan itu bertambah kuat karena roh ditarik dari seluruh badan Anda sehingga badan Anda berguncang mulai dari bawah sampai ke bagian paling atas. Rasa sakit luar biasa berikut berbagai kepedihan kematian menyelimuti dan merambah seluruh tubuh Anda. Saat itu Anda melihat wajah malaikat; Anda melihatnya tengah menjulurkan kedua belah tangannya ke arah mulut Anda untuk mengeluarkan roh dari badan. Anda menjadi kelu dan lemas karena pemandangan tersebut. Anda akan berharap besar ketika berita gembira disampaikan oleh sang malaikat dengan suaranya yang khas, “Bergembiralah wahai kekasih Allah karena ridha dan pahala-Nya” atau “Bergembiralah wahai musuh Allah karena marah dan azab-Nya.”

Bila penguburan sang mayat telah selesai dan tempat itu pun lengang dari manusia maka tubuh yang tadinya bergerak kini membujur kaku. Tak ada gerak yang ia dengar maupun manusia yang ia lihat. Tiba-tiba roh Anda dikejutkan oleh suara yang memanggil seluruh makhluk. Bayangkanlah bagaimana suara itu menimpa pendengaran dan akal Anda. Lalu bagaimana Anda bisa memahamkan diri Anda bahwa saat itu Anda akan dihadapkan di depan Sang Raja Pemilik segala sesuatu. Kala itu hati Anda melayang dan rambut Anda pun memutih karena panggilan tersebut. Di saat Anda kaget lantaran suara tersebut, tiba-tiba Anda mendengar suara bumi terbelah di dekat kepala Anda. Kala itu juga Anda melompat dalam keadaan terbalut dengan tanah kuburan lalu berdiri sambil mencari-cari asal suara tersebut. Seluruh makhluk bangkit bersama Anda dalam satu gerak, semuanya terbalut tanah yang selama ini membungkus jasad mereka. Bayangkanlah rasa kaget dan takut mereka saat dibangkitkan serentak. Bayangkanlah diri Anda dalam keadaan polos dan hina, sedih dan bingung di tengah himpitan makhluk-makhluk. Kala itu Anda telanjang dan tidak berterompah. Semua makhluk terdiam dalam keadaan hina, tidak bergerak, dan dihantui rasa takut yang luar biasa. Anda hanya bisa menangkap suara gerak langkah-langkah mereka. Tak ada lagi kekuasaan yang tersisa di tangan penguasa-penguasa bumi. Hari itu mereka semuanya hina dan kecil, bahkan merekalah makhluk paling hina setelah dalam kehidupannya di dunia menginjak-injak dan menghina hamba-hamba Allah. Sementara itu malaikat berdiri di segala penjuru langit. Semua peristiwa dahsyat ini Anda saksikan dengan mata kepala Anda sendiri.

Kemudian buku-buku pencatat (segala perbuatan) beterbangan di kiri-kanan, dan timbangan pun dipancangkan. Bayangkanlah besarnya timbangan yang dipancangkan tersebut, padahal saat itu hati Anda cemas menantikan ke arah manakah buku itu jatuh, di kiri atau di kanan Anda. Kala Anda tengah berdiri bersama makhluk-makhluk lainnya, tiba-tiba Anda menyaksikan malaikat-malaikat Zabaniyah berdatangan dengan menggenggam borgol-borgol besi. Kala Anda menyaksikan ini, hati Anda pun terbang karena dicekam rasa takut yang hebat. Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba nama Anda disebut. Anda dipanggil di hadapan seluruh makhluk, mulai dari yang pertama sampai yang terakhir. Mana si Fulan bin Fulan itu? Bayangkanlah Anda berdiri dengan gemetar hebat. Bayangkan juga sentuhan kulit mereka pada saat mengambil Anda. Bayangkan diri Anda diseret oleh mereka hingga tiba di depan arasy Yang Maha Pengasih. Mereka melemparkan Anda di hadapan Allah. Lalu Allah memanggil dengan firman-Nya yang agung, ‘Mendekatlah wahai anak Adam!’ Anda lebur dalam cahaya-Nya dan berdiri di hadapan-Nya dengan hati yang takut dan sedih. Betapa malunya Anda di hadapan Allah karena Ia masih berkenan memberikan karunia-Nya dengan jalan menutup aib Anda. Namun jawaban apa yang akan Anda berikan ketika ditanya tentang perbuatan Anda yang jahat.”

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, (At Takwiir 81:1-9)

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”, (Az Zalzalah 99:1-3

•    Tafakur terhadap Hukum Alam

Di antara faktor yang membuat hati orang beriman tergetar adalah karena ia mengetahui misteri-misteri di balik hukum-hukum Ilahi yang ada pada ciptaan-Nya, baik itu berupa tersingkapnya bahasa kimia yang digunakan semut kecil ataupun karena ia berhasil mengetahui volume sebuah planet raksasa. Atau keindahan suatu kandang lebah.

1.D.     BAB IV : PERBEDAAN-PERBEDAAN INDIVIDUAL DALAM TINGKATAN TAFAKUR

Sehingga setiap orang akan mendapatkan ganjarannya sesuai dengan tingkat kesulitan aktivitas tersebut

•    Dalamnya Keimanan

Makin bertambah keimanan seorang muslim makin mudah pula ia tenggelam dalam luasnya kerajaan Penciptanya. Hal ini juga memudahkan baginya mendapatkan perasaan khusyuk dan cinta.

•    Kemampuan dalam Berkonsentrasi

Yaitu kemampuan fitrahnya untuk berkonsentrasi tanpa cepat merasa lelah dan bosan. Karakteristik ini sangat bergantung kepada jenis organ syaraf yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.

•    Kondisi Emosi dan Intelektual

Tafakur membutuhkan ketenangan jiwa, kesehatan jasmani dan rohani.

•    Faktor-faktor Lingkungan

Yaitu pengaruh lingkugan tempat orang beriman hidup di dalamnya. Juga, sampai sejauhmana pikirannya itu kosong dari berbagai kesibukan dengan permasalahan sehari-hari.

•    Tingkat Pengetahuan Orang Beriman terhadap Objek Tafakurnya

Yaitu sampai sejauhmana orang yang melakukan tafakur tersebut mengenal spesifikasi objek tafakurnya.

Para ilmuwan mukmin memperoleh kedalaman tafakur yang jauh lebih tinggi disbanding yang kita peroleh.

•    Teladan yang Baik dan Pengaruh Persahabatan

Tafakur akan makin dalam dan makin transparan bila dilakukan secara rutin dan selalu dikaitkan dengan berdzikir serta bertasbih kepada Allah.

Sinar tafakur bisa dirasakan oleh setiap orang yang bergaul maupun berguru dengan insan yang telah memiliki makrifat itu.

•    Esensi dari Sesuatu

Tafakur terhadap benda-benda alami yang belum disentuh tangan manusia cukup mudah. Bahkan ada beberapa fenomena alam secara langsung merangsang pikiran dan perasaan sehingga menimbulkan getaran dalam struktur kejiwaan dan roh manusia. Sebaliknya, ada juga fenomena-fenomena yang sulit ditadaburi.

•    Tingkat Interaksi Orang Bertafakur dengan Objeknya

Kebiasaan seseorang terhadap satu objek akan menjadi hambatan tersendiri untuk bertafakur dan bertadabur. Interaksi yang sifatnya berulang-ulang akan mengakibatkan hilangnya fenomena kecantikan dan keagungan yang dimiliki alam semesta ini.

Tingkat kedalaman tafakkur = Tingkat faktor keimanan x (Tingkat konsentrasi + tingkat pengetahuan terhadap objek + tingkat kondisi emosi + … dst)

1.E.     PENUTUP

Tidakkah kamu melihat bahwasannya Allah Menurunkan hujan dari langit lalu Kami Hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. (al Fathir:27)

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata, dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.  (al Fathir:28)

“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan selain Allah.” (Lukman:11)

Wahai Dia yang melihat rentangan sayap-sayap nyamuk,

di tengah kegelapan malam yang pekat,

Yang melihat urat-urat halus di lehernya,

pun otak tersembunyi di balik tulang-tulang tipisnya,

ampunilah hamba-Mu yang ingin taubat dari segala kesalahannya,

kesalahan yang terjadi di masa yang lalu.
Maraji’

Prof Dr. Malik Badri, Fiqih Tafakur: dari Perenungan Menuju Kesadaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: